Ditodong Dito

Mus'ad Firdaus
Chapter #3

Aangrenzende huizen

'Push'

kutarik pintu gerai Ice Cream Boneka Salju.

"Ko engga bisa dibuka, Nai?" raut wajahku gelimpang kebingungan.

"Buka, Dit."

"Engga bisa ini!" Berulang kali menariknya tetap saja tak terbuka. Tukang parkir di pojok gerai pun diam tak bersua. Ibu dan anak yang mengantri teralihkan fokusnya pada bisik pintu yang berulang kali bergesek. Naisa di sampingku hanya tertawa menyuruhku untuk terus membuka. Sesekali dia mengatakan "Tarik pintunya, Dit."

Aku hampir kesal, lantas kutendang pintu itu tak keras, barulah terbuka.

"Eh, Dit. Kalo 'push' itu berarti dorong. Kalo 'pull' itu tarik..." Begitu kata Naisa ketika dia mencoba menguji seorang Dito yang dari dulu jarang terlihat bercingkrama dan mengunjungi tempat nongkrong ala anak muda.

Sampailah kita di depan kasir, setelah antrian tujuh orang sebelumnya. Menu ice cream berjajar penuh tawaran.

Kali ini aku memasuki fase ujian selanjutnya, bertatap langsung dengan kasir cantik gerai tersebut. Senyumnya manis, hidungnya mancung, baunya harum. Jika boneka salju di sampingnya adalah Olap di filem frozen. Maka kasir itu layak dijadikan Ariel sebagai bestienya Olap.

"Naisa mah jauh kalo di bandingin sama ini." Besit hatiku ketika menunggu Naisa memilih pesanan.

Lihat selengkapnya