Doa Di Langit Finlandia

Nila Kresna
Chapter #2

Hangat di Negeri Dingin

Senyuman tipis terlukis di bibir Zidan saat matanya bertemu dengan Amara. Tanpa banyak kata, ia mengeluarkan dompet lalu menyerahkan beberapa kartu identitas.

“Ini identitasku, kartu mahasiswa. Paspor ada di rumah,” ujarnya tenang, seolah ingin menenangkan kegelisahan yang samar terlihat di wajah Amara.

Ia kemudian membuka ponselnya, menampilkan data diri lainnya. “Kalau masih ragu, silakan lihat.” Ponsel itu ia geser perlahan ke arah Amara.

“Bukan tidak percaya,” kata Amara lembut, “aku hanya ingin memastikan.”

Matanya menelusuri identitas itu sekilas, lalu senyum kecil muncul—senyum yang entah kenapa membuat dada Zidan terasa hangat.

“Sudah percaya?” tanya Zidan sambil merapikan kembali semuanya. “Jadi, bagaimana rencana kalian?”

Tak lama, Dina datang bersama Gema.

“Kami mau cari tempat istirahat malam ini,” jawab Amara. “Setelah badai reda baru lanjut perjalanan. Tapi hotel penuh, taksi juga jarang mau ambil jarak jauh.” Nada lelah tak bisa disembunyikan.

Zidan terdiam sejenak, lalu melirik Gema. Tatapan itu seperti kode diam-diam. Gema sempat bingung, sampai akhirnya ia mengerti.

“Oh… gimana kalau kalian tinggal dulu di apartemen kita?” usulnya spontan.

“Shared apartment,” jelas Zidan pelan.

“Ada dua kamar kosong. Kalian bisa pakai sementara sampai badai selesai,” lanjut Zidan, suaranya tetap tenang namun terasa tulus.

“Apa tidak merepotkan?” tanya Amara ragu.

“Tentu tidak,” sahut Gema cepat, memahami maksud sahabatnya tanpa perlu penjelasan panjang. Ahh… sudahlah.

“Gimana, Mbak?” tanya Dina sambil memeluk lengannya. “Di sini dingin. Aku kangen tempat tidur dan selimut. Dua puluh jam di pesawat rasanya badan remuk semua.”

Amara masih diam. Bagaimanapun, tinggal di hotel terasa lebih aman dibanding menerima kebaikan orang yang baru dikenal.

Zidan menangkap keraguan itu. Ia kembali bicara, suaranya lembut seperti salju yang jatuh di luar sana. “Di sana juga ada beberapa orang Indonesia. Aku kenal baik pemiliknya. Kalian aman… aku pastikan.”

Amara menatap keluar jendela. Salju turun pelan, memutihkan jalanan.

“Tapi saljunya…” gumamnya.

“Tidak jauh dari sini. Taksi masih bisa mengantar,” jawab Zidan mantap.

Lihat selengkapnya