Zidan yang masih belum tidur duduk di depan laptopnya. Layar terang itu memantulkan fokus di wajahnya, hingga ia segera menutupnya saat melihat Amara keluar kamar dengan langkah pelan, seperti berusaha tidak menimbulkan suara.
Begitu Amara berbalik, tatapan mereka langsung bertemu. Ia sempat terperanjat, napasnya tertahan sesaat, lalu kembali tenang ketika sadar itu Zidan.
“Apa suaraku mengganggumu?” tanya Zidan. Di layar laptop yang belum sepenuhnya mati, tampak beberapa orang masih menunggu.
“Oh tidak… aku…” Amara menunjuk pintu bertuliskan toilet.
Zidan mengangguk paham, lalu membuka kembali laptopnya. Sementara Amara melanjutkan langkah menuju kamar mandi. Di sela langkahnya, ia sempat mendengar percakapan Zidan dalam bahasa Inggris. Sepertinya soal pekerjaan.
Matanya sekilas melihat jam dinding. Hampir pukul dua malam.
Jam berapa dia biasanya tidur? pikirnya. Namun cepat-cepat ia menggeleng. Bukan urusannya.
Di dalam kamar mandi, Amara memperhatikan sekeliling. Semuanya rapi, bersih, bahkan lebih teratur dari yang ia bayangkan untuk rumah laki-laki. Ada kesan hangat dan nyaman di sana.
Setelah selesai, ia keluar lagi. Percakapan Zidan masih terdengar. Amara sempat hendak kembali ke kamar, tetapi teringat rencananya besok pagi akan pergi. Rasanya lebih baik menyelesaikan urusan malam ini saja.
Ia kembali keluar sambil membawa ponsel.
Zidan langsung menoleh. Laptopnya sedikit ditutup, suara dari seberang otomatis teredam.
“Selesaikan dulu saja,” kata Amara, tidak enak karena merasa mengganggu.
“Lima menit,” jawab Zidan singkat.
Amara mengangguk dan duduk di hadapannya. Zidan kembali berbicara dengan orang di layar. Dari nada dan kata-katanya, Amara menangkap itu semacam bimbingan kerja.
Tak lama, laptop itu ditutup.
Tatapan teduh Zidan beralih padanya, membuat Amara mendadak gugup lagi.
“Sepertinya aku mengganggu?” tanya Amara basa-basi.
Zidan menggeleng pelan.
“Tidak. Memang mau kuakhiri.”
Ia bangkit menuju pantry yang menyatu dengan ruang tamu. Membuka lemari, mencari sesuatu. Sayangnya ia tidak punya coklat.
“Hanya ada kopi, susu, teh… atau air putih hangat?” tawarnya.
Amara sebenarnya ingin cepat kembali ke kamar setelah membayar, tapi tawaran itu membuat langkahnya tertahan.
“Kopi susu… susunya lebih banyak ya,” katanya.
Zidan mengangguk. Kompor dinyalakan, gerakannya tenang dan terlatih. Tak lama ia kembali membawa nampan berisi dua cangkir kopi susu dan segelas air hangat.
“Terima kasih.” Amara menerima cangkir dengan uap tipis mengepul.
“Aku kira kamu sudah buat kopi tadi,” kata Amara melihat cangkir lain di dekat laptop.
“Itu punya Gema. Tadi dia sempat di sini.” Zidan langsung menggesernya menjauh, lalu menikmati kopi barunya bersama Amara.
Diam-diam Zidan memperhatikan Amara. Setiap perubahan ekspresi perempuan itu saat menyeruput kopi tak luput dari matanya. Ketika senyum kecil akhirnya muncul — tanda ia menyukai racikannya — barulah Zidan mengalihkan pandangan, seolah tak ingin ketahuan.
Bibir Amara berkali-kali meniup permukaan kopi, tampak tak sabar mengecap lagi rasa hangat yang tersisa di bibir cangkir. Rasa sederhana… tapi entah kenapa membuat Zidan merasa ada bagian dirinya ikut tersampaikan di sana.
“Oh ya… besok pagi aku harus pamit.”
Zidan berhenti sesaat, namun tetap mendengarkan.