Doa Di Langit Finlandia

Nila Kresna
Chapter #4

Caraku Menjagamu

Sampai di alamat yang dituju, Zidan kembali membantu mengeluarkan koper lalu membawanya masuk. Zidan sendiri sudah mengerti, rumah yang ditempati orang dari berbagai negara seperti ini mungkin tidak akan langsung membuat Amara betah. Ada rasa khawatir juga saat perempuan itu harus pulang dalam keadaan cuaca gelap.

Langit Finlandia bulan ini memang sedang sering gelap. Amara harus lebih menyesuaikan dirinya dengan cuaca negara ini. Untungnya ia tidak selamanya di sini, hanya delapan bulan. Terbayang kalau sampai harus selamanya—bangun masih gelap, pulang kerja pun tetap gelap.

Jika di rumah Zidan berlantai dua, di sini lebih seperti deretan kamar yang saling berhadapan sepanjang lorong. Begitu Amara masuk lorong, ia melihat sepasang kekasih sedang bermesraan. Suasana memang redup, ditambah udara dingin membuatnya semakin canggung.

Ia langsung berbalik melihat Zidan.

“Kita belum sarapan, ya?” katanya mencoba mengalihkan perhatian.

Sesaat Zidan melihat arah belakang Amara, lalu mengerti kenapa perempuan itu tidak nyaman.

“Menunduk saja.” Ia mengambil kunci pintu dari tangan Amara lalu menarik tangannya pelan agar tidak salah masuk ruangan.

Zidan melewati kedua muda-mudi yang sedang berciuman itu, sedangkan Amara menunduk, hanya mengikuti langkah Zidan sampai mereka masuk ke salah satu kamar. Begitu masuk, Zidan langsung menutup pintu.

“Sudah,” katanya pelan, mengingatkan Amara untuk kembali mengangkat kepalanya.

“Mmh…” Amara mencoba tersenyum meski masih kaku.

“Bukannya sudah terbiasa?” tanya Zidan.

Amara mengernyitkan alisnya.

Zidan lalu mengarahkan wajahnya ke ponsel Amara—ada foto Amara bersama dua anak kecil.

“Oh… iya. Aku sudah pernah menikah. Ini kedua anakku,” Amara menunjukkan ponselnya.

“Aku tidak sengaja melihatnya semalam,” tutur Zidan.

“Tidak apa-apa.”

Amara mulai mengamati ruangan itu, sementara Zidan membuka kain yang menutupi perabotan.

“Kenapa tidak diantar? Apa pasanganmu tidak takut melepasmu sendirian di negeri orang?”

Tatapan mereka sempat bertemu cukup lama.

“Kami sudah berpisah.” Amara mengalihkan pandangannya, lalu mulai melihat kamar dan berjalan ke dapur. Ia menghidupkan keran air, tapi tidak keluar apa-apa.

Zidan langsung mengambil alih, Amara bergeser dari tempatnya.

“Sepertinya pipanya tersumbat. Keran sudah lama tidak digunakan.” Ia memeriksa sesaat dengan teliti. “Aku cek air di kamar mandi dulu.”

Ia bergegas menuju kamar mandi, memeriksa aliran air hangat.

“Air hangatnya masih berfungsi, cuma aliran ke wastafel yang bermasalah. Aku panggil tukang pipa.”

Zidan lalu menelpon layanan perbaikan yang biasa menangani rumahnya. Ia mulai membereskan ruangan, membantu Amara. Sikap sigap pria itu membuat Amara tersentuh, seakan Zidan tahu apa yang ia butuhkan.

Amara tersenyum tipis melihat Zidan merapikan ruang tamu, membuka kain penutup perabot, juga membuka gorden meski di luar tetap gelap.

Lihat selengkapnya