Katanya tidak boleh terlalu boros, jadilah Zidan mengabulkan permintaan itu dengan berjalan kaki menuju toko cokelat. Hanya saja langkahnya terlalu cepat untuk ukuran perempuan, ditambah jalanan bersalju yang licin. Napas Amara sampai terengah-engah demi mengimbangi langkah lebar Zidan.
Zidan yang akhirnya menyadari Amara kelelahan pun memelankan langkahnya, menyesuaikan ritme jalan perempuan itu. Barulah Amara bisa berjalan lebih nyaman di sampingnya.
“Apa sepanjang bulan akan gelap seperti ini terus?” tanya Amara setelah napasnya mulai stabil.
“Bulan depan seharusnya matahari sudah mulai sering muncul.”
Saat berhenti di lampu merah, Zidan menggeser Amara agar berdiri lebih dekat dengannya. Ia menukar posisi tubuh, melindungi Amara dari arah mobil yang sudah lama menunggu lampu hijau.
“Masih jauh?” tanya Amara.
“Capek?” Zidan balik bertanya.
“Nggak.”
Lampu berubah hijau. Zidan mengajak menyeberang. “Itu tokonya,” ujarnya sambil menunjuk salah satu bangunan.
Amara bergegas mendekat. Hiasan depan toko benar-benar menunjukkan itu toko cokelat. Boneka salju yang biasanya putih kini berwarna cokelat, kedua tangannya memegang batang cokelat.
Begitu masuk, mereka disambut air terjun mini yang dihiasi lelehan cokelat. Beberapa pengunjung terlihat mencicipinya.
“Wah, cokelat sekali,” Amara tersenyum pada Zidan.
Zidan menunduk tipis, mempersilakan Amara menikmati “dunianya”.
Amara berjalan lebih dalam. Sebelum membeli, pengunjung bisa mencicipi berbagai jenis cokelat di tempat khusus. Banyak sekali pilihan. Amara mencoba salah satunya. Zidan ikut melihat-lihat, lalu mengambil sedikit cokelat untuk dicicipi dan memberikannya pada Amara.
“Tidak terlalu manis,” katanya.
Amara ikut mencoba. “Mmh… iya,” jawabnya setuju. Beberapa cokelat mulai masuk daftar pilihannya—dari bentuk lucu sampai cokelat bubuk untuk minuman.
Saat menuju kasir, Zidan mendekat.
Namun Amara menarik belakang bajunya. “Ini aku yang bayar.” Katanya segera mengeluarkan dompet.
“Kalau kapan-kapan aku mau membelikan mereka cokelat?”
“Kembali saja ke Indonesia,” kata Amara spontan.
Zidan tertegun.
Amara cepat berbalik. “Bercanda… boleh kok, tapi lain waktu.”
Setelah selesai membayar, Zidan otomatis mengambil alih kantong belanja. Dalam perjalanan keluar, Amara kembali bicara.
“Kalau tiap hari naik taksi, bisa boncos.”
“Apa boncos?”
Baru kali ini Zidan melihat Amara tertawa lepas. Masih teringat jelas bagaimana perempuan itu semalam begitu siaga dan dingin padanya. Kini, tawa itu terasa hangat.
“Makanya jangan kelamaan di luar negeri,” Amara masih tertawa kecil, sementara Zidan menikmati momen itu diam-diam.
“Boncos itu rugi, tekor. Kalau aku pulang-pergi naik taksi terus.”
“Naik kereta saja?” tawar Zidan.
“Takut salah rute. Bisa nyasar nanti.”
“Aku ajari. Dari rumah sampai kantor.”