Dari kejauhan Dina melambaikan tangan pada Gema. Gema membalas lambaian itu, lalu beralih menatap Zidan.
“Batalin semua janji buat ketemuan ini,” gumamnya sambil menggeleng.
Awalnya Zidan memang meminta Gema mengajak Dina keluar—yang otomatis akan mengajak Amara. Dan Gema tentu saja akan mengajaknya juga. Tapi tak disangka justru Amara yang lebih dulu mengusulkan pertemuan.
Zidan hanya membuang wajah, jengah mendengar keluhan sahabatnya.
Tak lama kemudian kereta datang. Dina naik lebih dulu, disusul Amara, lalu Gema dan Zidan. Saat duduk, Dina memilih kursi terlebih dahulu. Gema dengan lincah menyusul dan duduk di sampingnya.
“Kakiku sakit dari semalam,” katanya seraya mengangkat kaki sedikit, pura-pura meringis.
Zidan memberi ruang agar Amara bisa masuk ke kursinya, barulah ia duduk di sebelahnya. Jadilah mereka berpasangan—Dina dan Gema di depan, Amara dan Zidan di belakang.
“Kenapa kakinya?” tanya Dina.
“Kayaknya habis main bola kemarin.”
“Main bola? Di salju begini?” Dina mengernyit heran.
“Udah, nggak usah dipikirin.” Gema menurunkan kakinya kembali.
Amara menyerahkan paper bag berisi baju Zidan. “Ini aku kembalikan. Terima kasih.”
“Kamu boleh menyimpannya lebih lama,” ujar Zidan pelan.
“Tidak apa-apa.” Amara tetap menyerahkannya. Zidan pun menerima.
“Kalau nanti butuh lagi, bilang saja.”
Perjalanan cukup panjang. Amara yang kelelahan akhirnya tertidur. Tanpa sadar kepalanya bersandar di bahu Zidan. Zidan menyesuaikan bahunya agar Amara lebih nyaman.
“Aku mau tidur juga. Semalam nggak bisa tidur. Mau tidur di ruang tamu takut dingin,” kata Dina.
“Kenapa?” tanya Gema.
“Semalam kamar sebelah ribut banget.”
Zidan mendengarnya sambil memejamkan mata, namun sesekali melirik Amara yang tertidur pulas di bahunya.
Menjelang stasiun tujuan, Zidan menepuk bahu Amara perlahan.
“Sudah mau sampai.”
Amara menggumam pelan. “Ketiduran.” Ia segera memperbaiki duduknya saat kereta berhenti.