“Aku jemput sekarang.” Zidan langsung berdiri dari duduknya.
“Jangan, jangan. Besok saja. Mmh… merepotkan.”
Zidan berhenti di ambang lemari saat hendak meraih mantelnya. “Yakin? Kalian bisa istirahat?” tanyanya memastikan.
Amara menoleh pada Dina. Keadaan ini sebenarnya tidak terlalu baik baginya. Dina yang menangkap tatapannya menggerakkan bahu seolah bertanya, kenapa?
Amara masih diam.
“Berkemaslah. Aku jemput sekarang.” Suara Zidan kembali terdengar sebelum panggilan itu diakhiri.
Amara terdiam sejenak. Rasanya seperti menerima keputusan tegas dari seseorang yang ingin memastikan dirinya baik-baik saja. Ada sikap maskulin yang datang tanpa banyak penjelasan—seolah berkata bahwa ia akan mengurus semuanya.
Sudah lama Amara tidak merasakan sikap protektif seperti itu dari seorang pria. Selama ini, ia selalu memikirkan semua keputusan sendirian.
“Mbak?” Dina melambaikan tangan kecil di depan wajahnya. “Kok diam? Gimana kata Zidan? Sudah ada yang ngisi ya?” Dina terlihat kecewa.
Amara tersenyum. “Nggak. Dia lagi jalan mau jemput. Sana berkemas cepat.”
“Alhamdulillah.” Dina langsung kembali memasukkan barang ke dalam koper. “Memang nggak rezeki di sini. Dari datang juga rasanya malas ngeluarin barang dari koper.”
Ia terus berbicara dengan ceria sambil membereskan barang-barangnya.
Amara ikut mengemas koper, lalu teringat sesuatu.
“Din, kamu dekat sama Gema?”
Untuk di negara lain mungkin hal biasa tinggal satu rumah dengan orang lain, meski berbeda kamar. Tapi bagi Amara, tetap ada batas yang harus dijaga.
“Mbak nggak melarang kalian dekat. Tapi tetap harus saling menjaga, ya. Kita satu rumah, tapi bukan berarti bebas.”
Dina tertawa kecil. “Aku sama Gema cuma temenan aja, Mbak. Kayaknya dia juga sudah punya pacar. Aku juga lagi dekat sama orang di Indo.”
“Hah? Siapa?” Ada kelegaan kecil di hati Amara. Bagaimanapun ia yang paling dewasa di antara mereka. “Ya, Mbak cuma mengingatkan.”
“Iya, Mbak. Ngerti kok.”
Keduanya lalu membawa koper keluar. Mereka menunggu cukup lama di depan bangunan. Beberapa pasangan kekasih berlalu-lalang melewati mereka, membuat Amara dan Dina pura-pura sibuk dengan hal lain.
Tak lama kemudian sebuah taksi berhenti di depan mereka.
Zidan keluar dari mobil.
Tatapan mereka bertemu sejenak. Hening.
Dina segera menarik kopernya menuju bagasi yang sudah terbuka. Sementara Amara dan Zidan seakan terjebak dalam ruang sunyi di antara mereka.
Ada sesuatu yang kosong… lalu perlahan terisi.
Zidan melangkah lebih dulu, berdiri di depan Amara dan mengambil koper yang masih digenggam perempuan itu.
Salju turun perlahan, seakan menghipnotis suasana.
Dari diam itu justru rasa tumbuh—tanpa banyak kata, tanpa janji yang diumbar pada dunia.
Zidan hanya berdiri di sana dengan sikap tenang, seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Saat mulai berjalan, sesekali tangannya mengarahkan langkah Amara. Gerakan sederhana, namun pasti. Seperti seorang pemimpin yang tidak perlu meninggikan suara untuk diikuti.
Ia membuka pintu mobil untuk Amara. Setelah perempuan itu masuk, barulah ia merapikan koper Dina dan Amara di bagasi.
Zidan kemudian duduk di kursi depan, di samping sopir.
Suasana masih terasa canggung. Dina terus bercerita sepanjang perjalanan, sementara Amara dan Zidan lebih banyak diam.
Bukan suara yang berbicara, melainkan hati.
Amara mengetik sesuatu di ponselnya lalu mengirimkannya.
“Terima kasih. Maaf merepotkan lagi.”
Zidan membalas.
“Sama-sama. Kebetulan aku sedang di kafe.”
“Mmh.”