Doa Di Langit Finlandia

Nila Kresna
Chapter #8

Dua Orang dan Satu Keheningan.

“Pagi…” Suara nyaring Dina memecah keheningan.

Zidan yang sedang menikmati kopi bersama Gema refleks melirik ke arah pintu kamar Amara. Lalu ke jam tangannya. Ada harapan kecil yang ia sembunyikan, tapi hampir saja ia mengira harapan itu pupus—sepertinya Amara tak akan berangkat kerja hari ini.

Namun tak lama, pintu kamar itu terbuka.

“Kita berangkat bersama?”

Zidan langsung bangkit, meraih ranselnya dan menyelempangkannya ke bahu. Gerakannya terlalu cepat untuk seseorang yang tadi terlihat santai. Gema yang menyadari perubahan itu hanya menggeram dalam hati—mulutnya terasa gatal melihat sikap Zidan yang begitu kentara.

Mereka berjalan bersama. Kali ini Amara dan Dina di depan.

Gema membuka obrolan, sengaja. “Ada film bagus. Ada yang mau ikut nonton?”

Dina menoleh pada Amara. “Yuk, Mbak keluar.”

“Nggak bisa. Mau teleponan sama anak-anak. Dari kemarin sibuk terus. Kalau pun ada waktu, tempatnya nggak memungkinkan. Kalian saja.”

“Kamu, Din?” tanya Gema lagi.

“Aku mau. Nggak papa kan Mbak sendirian di rumah?”

“Zidan nemenin nanti,” sahut Gema cepat.

“Nggak bisa. Banyak kerjaan.”

Tatapan Gema langsung tertuju padanya. Apa ini? Kesempatan yang seolah terbuka justru ditolak begitu saja.

Zidan pura-pura tak peduli. Ia memang tak ingin terlihat terlalu mendekat. Biarlah Amara yang perlahan membuka hatinya, tanpa tekanan.

Mereka berpisah di stasiun. Tujuan berbeda, jalan berbeda.

Di kantor, Amara menyapa rekan barunya.

“Pagi, Stevani. Kamu selalu datang lebih awal?” tanyanya dalam bahasa Inggris.

“Iya. Aku menyiapkan materi meeting. Katanya nanti ada yang datang lagi dari Indonesia.”

“Oh ya? Siapa?”

Stevani memperlihatkan biodata di layar. Bukan dari Jakarta.

“Kamu kenal?”

“Tidak.” Amara tersenyum tipis.

Stevani kemudian mengingatkan aturan kantor. Di sini, jika pekerjaan selesai, karyawan boleh pulang lebih cepat.

Amara tertawa kecil. “Kalau di Indonesia, meskipun kerjaan selesai, tetap harus menunggu jam pulang. Kalau tidak, disuru lembur.”

“Benarkah?”

“Iya.”

Lihat selengkapnya