Doa Di Langit Finlandia

Nila Kresna
Chapter #9

Janji di Meja Makan

Bahagia tidak bisa dipaksa, tapi diciptakan. Kalimat itu terus berputar dalam ingatan Amara saat ini. Bersamaan dengan itu, di hadapannya seorang pria menatapnya dalam, seakan sedang menyampaikan sesuatu yang tak terucap.

Sepertinya waktu di detik ini berhenti. Keduanya sama-sama diam dengan tatapan yang sama.

“Supnya sudah matang,” kata Zidan dengan senyuman tipis.

“Mmh, mari makan.” Amara mulai mengangkat mangkuknya, meraih isiannya.

Zidan mengambilkan sendok, lalu mengisi gelas air minum untuk Amara dan juga untuknya.

Amara meraih mangkuk Zidan lalu mengisinya dengan sup tadi. Mereka saling bekerja sama menyajikan makanan, saling melemparkan senyuman. Mungkin orang yang tidak tahu pasti akan mengira mereka seperti sepasang kekasih dan salah paham atas sikap keduanya.

“Mari makan,” kata Amara, dibalas anggukan Zidan.

Keduanya menikmati hidangan sederhana sambil berbicara santai.

“Kita kalau ketemu pasti lagi makan.” Amara tertawa kecil.

“Itu bagus,” jawab Zidan masih menikmati hidangannya.

“Apanya yang bagus? Biasa saja. Makan setiap hari tiga kali.”

Zidan menghentikan suapannya. “Aku jarang makan tepat waktu. Kadang makan hanya satu kali, itupun diburu-buru pekerjaan.” Ia kembali menyendok makanannya. “Ini enak.” Ia menunjuk sup buatan Amara.

Amara terdiam. Masakan sederhana, hanya mengandalkan bumbu yang ada. Tapi dilihat dari cara Zidan menikmatinya, memang terlihat benar ia menikmati.

Akhirnya membuat Amara penasaran. “Berapa lama kamu tidak makan masakan rumahan?” tanyanya.

Entah mengapa keadaan menjadi sendu. Amara terus melihat lelaki di hadapannya yang sedang menikmati masakannya.

“Entah. Aku sudah lupa sejak kapan.” Zidan kembali mengambil isian sup.

“Mulai sekarang aku yang akan memasak untukmu sehari-hari.”

Entah apa yang Amara ucapkan barusan, tapi bagi Zidan itu seperti sebuah kunci yang menguncinya rapat. Matanya kini tertuju pada Amara dengan tatapan penuh makna yang sangat dalam.

Belum sadar dengan apa yang dikatakannya, Amara malah melebarkan senyuman. “Malah ngelamun. Ayo makan lagi.” Ia kembali mengambilkan isi sup pada mangkuk Zidan, sedangkan pemuda itu masih tertegun akan janji itu.

“Masakanku nggak begitu enak, tapi kalau ada yang kamu mau bilang saja. Siapa tahu aku bisa masakin nanti, sekalian ngilangin kangen sama masakan Indo.”

Bagaimana jika yang Zidan rindukan adalah Amara?

Zidan masih terus memperhatikan perempuan itu dengan senyuman kecilnya. Memperhatikan setiap gerakan Amara ketika minum atau menyuap makanan.

Tidak lama ponselnya berdering.

“Mmh.” Senyum Amara melebar sambil menunjukkan layar ponselnya pada Zidan. “Si kembar,” katanya, lalu memberi isyarat pada Zidan untuk diam sesaat dengan meletakkan telunjuknya di bibir.

Panggilan telepon diangkat.

“Bunda!”

Kedua anak perempuan Amara berebutan memanggilnya.

Zidan hanya menyimak obrolan keluarga kecil itu. Si kembar bercerita menyukai cokelat yang Amara kirimkan. Tentu saja diam-diam Zidan mengingat itu.

Lihat selengkapnya