Jam satu lewat, pintu itu terbuka. Zidan sedikit menutup layar laptopnya. Rambut berantakan dengan wajah bantal, Amara keluar dari kamar.
“Mmh…” gumamnya pelan, lalu kembali masuk.
Zidan hanya melihat, sedikit khawatir. Mengapa tidak jadi ke kamar mandi? Ia masih menatap pintu kamar perempuan itu. Namun tak lama Amara keluar lagi. Ada kelegaan di hati Zidan begitu melihatnya.
“Belum tidur?” tanya Amara.
Zidan menggeleng dengan senyuman tipis. Ia baru menyadari perempuan itu lupa menutup kepalanya.
“Kamu sendiri, nggak bisa tidur?” tanya Zidan.
“Bisa, sangat nyenyak. Mau ke sana.” Amara menunjuk pintu toilet.
Zidan mengangguk. Amara bergegas.
Keluar dari kamar mandi, ia sebentar berdiri di ambang pintu.
“Masih banyak yang harus dikerjakan? Sudah mau jam dua.”
“Sebentar lagi.”
Amara mengangguk lalu berpamitan masuk kembali. Setelah perempuan itu masuk, barulah Zidan menutup laptopnya lalu membawanya ke kamar dan mulai berbaring untuk tidur.
Pagi harinya Dina dan Gema sudah siap di ruang tamu. Tak lama Amara keluar.
“Belum berangkat?” tanyanya.
“Nunggu Mbak,” kata Dina.
Amara kebingungan. Mengapa dirinya ditunggu?
Bersamaan dengan itu Zidan keluar dari kamarnya. Semua mata tertuju padanya.
“Kata Zidan tunggu Mbak bangun,” jelas Dina.
Amara tersenyum pada Zidan.
“Aku tidak apa-apa di rumah.”
Zidan balas menatapnya. “Ada urusan lain?” tanyanya.
Amara kembali tersenyum sambil mengendikkan bahu. “Tidak ada.”
“Kalau begitu ikut saja. Daripada sendirian di rumah. Masih perlu berdandan?” tanyanya.
“Tidak, tinggal pakai jaket.”
“Kita berangkat,” ajak Zidan tanpa basa-basi.
“Aah, iya. Aku ambil ponsel dulu.” Amara kembali ke kamarnya dengan tergesa, lalu sedikit merapikan riasan di wajahnya.
Gema yang sedang memakai sepatu di samping Zidan berbisik,
“Hebat sekali, langsung pada intinya. Sampai tidak sempat menolak.”
Mendengar itu Zidan hanya diam sambil terus memakai sepatunya.
Tak lama Amara keluar dan berdiri di sampingnya.
Zidan mengambilkan sepatu Amara lalu meletakkannya di dekat kakinya. Refleks Amara tersenyum lalu memakainya. Keduanya sempat saling bertatapan dengan senyuman tipis di wajah Amara.
Perlakuan lelaki itu terasa terlalu manis baginya.
Di bawah, taksi sudah menunggu. Dina masuk melalui pintu kanan, sedangkan pintu kiri Zidan bukakan untuk Amara.