“Ada tugas kantor dua minggu.”
“Mmh.” Amara mengangguk, meletakkan gelasnya di atas meja. Entah mengapa ada rasa asing saat mendengar Zidan akan pergi selama itu.
“Kalau selesai lebih cepat, aku akan cepat kembali,” kata Zidan lalu memberikan tisu pada Amara.
Di saat keduanya sedang saling diam, Gema mengajak Dina pergi.
“Sudah selesai makannya? Temani aku.”
“Baiklah, aku sudah selesai.” Ia membawa susu cokelatnya pergi.
Amara dan Zidan masih saling diam. Lalu Amara mulai kembali bicara.
“Hati-hati nanti, mmh... jaga keselamatanmu.” Katanya terdengar kaku. Ia menggigit bibirnya. Dalam hatinya rasanya kata itu tidak tepat.
Zidan yang mendengar itu sedikit tersenyum sambil menunduk.
“Mm, keselamatan.” Katanya mengulang.
Akhirnya keduanya sama-sama salah tingkah. Entah mengapa semua terasa menjadi kaku. Hanya sesekali mereka berbalas pandangan.
Lalu tiba-tiba Zidan bertanya,
“Kamu punya pacar?”
“Aah...” Amara hanya bisa terperangah tanpa menjawabnya. Pandangan keduanya kembali terpaut dalam. Lalu ia menunduk.
“Tidak,” jawab Amara.
“Aku tahu,” kata Zidan.
Amara kembali mengangkat wajahnya.
“Tahu dari mana? Kamu tanya Dina?”
Zidan menggeleng.
“Dia tidak pernah meneleponmu sepanjang hari saat di luar rumah,” tutur Zidan.
Secara tidak langsung Zidan mengatakan jika dirinya terus mengawasi Amara setiap saat.
“Apa aku boleh mengejarmu?”
Pertanyaan yang tidak mungkin langsung ada jawabannya. Amara diam. Tapi itu cukup bagi Zidan. Ia tersenyum.
“Aku berangkat hari ini,” lanjut Zidan.
“Hari ini? Terus kenapa malah keluar? Aku selesaikan makan cepat, kita pulang.” Amara terburu-buru memakan makanannya, tapi dicegah Zidan.
“Pelan-pelan saja, masih ada waktu.”
Amara melihat Zidan.
“Sudah packing?”
Ia mengangguk.
“Hmm.”
Amara kembali melambatkan makannya sampai benar-benar selesai.
“Zii...”
Suara seseorang memanggilnya lalu duduk di samping Zidan. Sepertinya berkewarganegaraan Finlandia.
“Ya, David.” Zidan membalas sapaannya, lalu melirik Amara sesaat.