Finlandia.
Kepulan uap panas dari kamar mandi meninggalkan embun tipis di kaca pembatas. Seorang pria matang keluar dengan handuk melilit pinggang, tanda ia baru selesai mandi. Pembawaannya tenang di bawah cahaya redup pagi musim dingin.
Wajahnya tegas dengan garis rahang jelas. Kulit sawo matangnya memberi kesan hangat sekaligus kuat. Hidungnya tidak terlalu mancung, namun manis dan serasi dengan keseluruhan wajahnya—sederhana, tapi memikat.
Postur tubuhnya proporsional, tidak berisi namun juga tidak kurus. Tegap, nyaman dipandang, seolah memancarkan wibawa tanpa perlu berusaha. Ia berdiri di depan cermin, mengenakan kemeja dengan gerakan tenang dan pasti. Jakunnya sesekali naik turun saat menelan ludah, entah karena lelah atau larut dalam pikirannya sendiri.
Rutinitas pagi itu kembali terulang. Di pagi bersalju, ia mengenakan sweater tebal berlapis, sepatu bot, lalu bersiap menembus dinginnya Finlandia.
Namanya Zidan Elhan. Sudah empat tahun ia tinggal di negeri asing ini—setelah gagal menyelesaikan kuliah di Indonesia, ditambah konflik yang membuatnya memilih pergi dan memulai hidup baru jauh dari tanah kelahiran.
Earphone terpasang di telinganya, memutar berita pagi.
"Hari ini badai salju diperkirakan semakin kuat. Semua transportasi dihentikan sebelum malam tiba."
Ia tetap melangkah menuju stasiun bawah tanah. Hampir pukul delapan pagi, tetapi langit masih gelap, khas musim dingin Finlandia.
Jakarta — 12.00 WIB
Bandara Internasional Soekarno-Hatta tampak ramai.
“Untung nggak telat. Cepat, cepat,” ujar Amara sambil berlari kecil bersama sahabatnya, Dina. Mereka tertawa ringan, campuran gugup dan semangat. Hari ini keduanya berangkat ke Finlandia untuk urusan pekerjaan.
Setelah duduk di kabin pesawat dan merapikan tas di bagasi atas, perjalanan panjang sekitar dua puluh jam pun dimulai.
Saat tiba di Bandara Helsinki, badai salju menahan mereka. Baru keesokan malam mereka bisa melanjutkan perjalanan. Namun taksi yang mereka tumpangi akhirnya berhenti di tengah jalan.
“Maaf, saya tidak bisa mengantar sampai tujuan. Lebih baik cari hotel atau penginapan dulu,” kata sopir taksi dalam bahasa Inggris.
“Oh, oke. Terima kasih,” jawab Amara.
Begitu turun, Dina menunjuk sebuah kafe kecil yang masih buka.
“Mbak, itu… ada kafe.”
Amara selesai membayar taksi. “Iya, ayo.”
Mereka segera masuk.
“Dingin banget…” Amara menggosok kedua tangannya. “Kayaknya baju kita kurang tebal.”
Dina mengangguk. “Aku pesenin hot chocolate, ya.”
Suasana kafe tenang, hanya beberapa orang duduk sambil ditemani alunan musik akustik lembut. Dina sempat bertanya pada barista berapa lama badai biasanya berlangsung.