Doa untuk Mu

Davie Al-Fattah
Chapter #4

Surat Yang Tak Pernah Ku Kirim

Pernah aku merasa ketika semua doa terasa seperti berhenti. Bukan karena aku tidak lagi percaya, bukan karena aku marah kepada Sang Maha Pencipta, tetapi karena aku tidak tahu lagi harus mulai dari mana. Seolah setiap kata yang dulu mudah kuucapkan tiba-tiba kehilangan pegangan, dan aku ikut kehilangan arah. Babak itu pernah menjadi salah satu fase paling sunyi dalam hidupku, meski di luar diriku dunia tetap bising seperti biasa. Tapi justru kebisingan itulah yang membuat kesunyianku semakin terasa.

Dari hari ke hari aku merasa seperti seseorang yang terus berjalan sambil menghindari bayangannya sendiri. Doa-doa yang dulu merupakan kekuatan, berubah menjadi sesuatu yang ingin ku tunda. Bukan karena tak ingin berdoa… tetapi karena takut mendengar suaraku sendiri. Takut mengakui bahwa ada bagian dari diriku yang patah. Pada akhirnya, aku memilih berhenti. Berhenti memaksakan diri untuk kuat. Berhenti pura-pura paham apa yang sedang terjadi. Berhenti menutup mata dan berpura-pura tidak terluka. Dan di masa berhenti itu, kesendirian datang perlahan. Ia tidak mengetuk pintu, tidak memaksa. Kesendirian hanya duduk di kursi paling sepi dalam diriku, lalu menunggu sampai aku siap menoleh ke arahnya. Awalnya aku takut. Kesendirian selalu tampak seperti ancaman. Namun ternyata, ia adalah satu-satunya yang tersisa ketika aku sudah tidak bisa menjelaskan tentang apa pun kepada siapa pun.

Dari situ aku mulai belajar hal yang sangat lambat, tapi pasti: memahami diriku sendiri. Mendengar tanpa langsung menyimpulkan. Mengakui tanpa harus malu. Menerima tanpa harus pasrah. Dan untuk sebuah alasan yang tidak sepenuhnya ku mengerti, hujan pada suatu hari menjadi titik balik yang tidak pernah kuduga. Hujan itu turun begitu pelan, seolah Tuhan dengan sengaja memilih kehalusan. Tidak ada kilat, tidak ada angin besar, tidak ada badai. Hanya air yang jatuh dari langit dengan ketenangan yang aneh. Saat turun, aku merasakan sesuatu di dalam diriku ikut mencair. Seperti ada bagian yang selama ini membatu, kini retak perlahan. Dan setelah hujan itu… entah kenapa, aku merasa siap menulis. 

Di depanku kini ada selembar kertas kosong. Kertas ini tampak sederhana, tetapi bagiku ia seperti ruang yang tidak berani kudatangi selama ini. Ruang yang bisa menelanjangi isi hatiku jika aku tidak hati-hati. Disini aku duduk, dengan pena di tangan, tapi dengan hati yang masih bertanya-tanya apakah benar aku siap menuliskan sesuatu yang selama ini tidak pernah aku izinkan keluar. Aku ingin menulis sebuah surat. Surat yang mungkin seharusnya sudah kutulis sejak lama. Surat yang tidak pernah kukirimkan kepada siapa pun. Sebelum satu kata pun tertulis, aku merasakan getaran halus di dalam dadaku. Bukan sakit, bukan pula sedih, tetapi semacam rasa yang sulit dijelaskan… seperti seseorang yang bersiap membuka pintu lama.

Ada jeda kecil, jeda yang membuatku menunduk sejenak. Dan di dalam jeda itulah aku kembali bertemu dengan doa-doaku yang terhenti. Bukan doa panjang. Bukan doa yang dipilih karena indah. Hanya doa yang lahir dari kelelahan.

“Ya Allah, Sang Maha Pemilik Segalanya… aku lelah.”

Sederhana. Pendek. Tapi ketika bisikan itu muncul dalam dadaku, rasanya seperti meneteskan sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan. Aku menarik napas yang terasa lebih berat dari biasanya. Lalu satu lagi doa muncul. Ini bukan doa yang menginginkan solusi besar. Ini lebih seperti rintihan kecil seseorang yang sedang belajar berdamai dengan keadaan.

“... aku bingung. Aku tidak tahu dari mana harus mulai merapikan diriku ...”

Lihat selengkapnya