Aku pernah percaya bahwa menggenggam sesuatu erat-erat adalah bentuk paling jujur dari mencintai. Bahwa kalau aku menahan sesuatu di dadaku, melindunginya, menjaganya, maka ia tidak akan pergi. Tapi pada akhirnya, aku justru belajar bahwa rasa takut kehilangan kadang lebih menyakitkan daripada kehilangan itu sendiri. Dan pelajaran itu datang dari perjalanan panjang—perjalanan yang tidak pernah kuminta, tapi justru mengajariku makna melepaskan. Beberapa hari setelah hujan panjang yang mengubah langkahku, aku mulai belajar menata ulang ruang dalam diriku. Ruang yang selama ini dipenuhi suara-suara yang tidak pernah benar-benar kudengar dengan jernih. Suara ketakutan, penolakan, keraguan, bahkan doa-doa yang tidak selesai. Aku merasa seperti seseorang yang tiba-tiba menyadari bahwa rumahnya penuh debu setelah bertahun-tahun tinggal di dalamnya. Udara yang kuhirup terasa berat, padahal aku sudah terlalu lama menganggapnya biasa.
Di saat-saat itu, aku mulai bertemu dengan diriku sendiri secara perlahan. Entah sejak kapan aku mulai menahan sesuatu begitu keras, seakan-akan melepaskannya berarti mengakui bahwa aku tidak cukup kuat untuk mempertahankan. Padahal mungkin, melepaskan bukan tentang kalah—melainkan tentang percaya. Percaya bahwa sesuatu yang pernah mengisi hidupku juga punya takdirnya sendiri. Percaya bahwa apa yang pergi bukan selalu hukuman, dan apa yang tinggal bukan selalu kemenangan.
Aku duduk lama satu malam itu, di kursi tua yang mulai kusam, di bawah lampu redup yang seolah sengaja tidak ingin terlalu jujur menampakkan segalanya. Di pangkuanku tergeletak sebuah lembar kertas kosong. Kertas yang rencananya ingin kutulisi dengan semua yang selama ini aku tahan, semua yang tidak pernah kusampaikan, semua yang tidak berani kuakui. Tapi tanganku berhenti. Jari-jariku gemetar. Aku belum siap. Dan di situlah aku sadar, bahwa melepaskan bukan hanya soal merelakan seseorang pergi dari hidupku. Tapi juga melepaskan versi diriku yang terlalu lama menolak kenyataan. Aku memandang langit-langit kamar yang pucat. Warna itu seperti menggambarkan hatiku hari itu—tidak terlalu gelap, tapi juga tidak cukup terang untuk disebut damai. Ada bayangan-bayangan samar, potongan ingatan, kata-kata yang pernah membuatku berdiri dan sekaligus runtuh.
Di luar, angin malam bergerak perlahan. Tidak dingin, tapi cukup untuk membuatku menutup diri dengan selimut tipis. Aku mendengar pepohonan berdesir, seakan sedang menenangkan tanah yang masih basah setelah hujan beberapa hari terakhir. Aneh, tapi aku merasa seolah dunia di luar rumahku sedang mempelajari sesuatu yang sama denganku—bahwa yang basah pada akhirnya akan mengering, dan apa pun yang jatuh tidak selamanya harus ditangisi. Namun manusia tidak sesederhana itu. Aku menghela napas panjang. Aku pernah mencoba menahan sebuah situasi dalam hidupku. Aku pernah menyediakan ruang, keteduhan, juga kesabaran sejauh yang bisa aku mengerti. Tapi semakin aku berusaha menggenggam, semakin aku takut kehilangan. Dan semakin aku takut kehilangan, semakin aku mengunci diriku sendiri. Aku menutup pintu, mematikan lampu, dan menyimpan semua yang rapuh dalam gelap.