Aku sempat mengira hidupku hanya akan berputar di lingkaran kepedihan yang pekat tanpa cahaya selamanya—antara berharap, ragu, sedih, dan menahan banyak hal yang tak pernah sanggup kuceritakan. Tapi kini, ketika aku melihat kembali perjalanan yang sudah kutempuh, aku mulai memahami bahwa tidak ada lingkaran yang benar-benar buntu. Selalu ada celah kecil tempat cahaya menyelinap masuk, bahkan ketika aku merasa semuanya gelap. Cahaya itu tidak datang sebagai kejutan besar. Ia datang perlahan, seperti pagi yang tidak memaksa siapa pun untuk bangun, tetapi tetap hadir dengan sabar sampai akhirnya terlihat. Dan mungkin, sejak awal perjalanan ini, cahaya itu memang sudah mengikuti langkahku. Aku saja yang terlalu sibuk dengan lukaku sendiri sampai tidak melihatnya. Ketika aku memandang kembali setiap bab perjalanan ini—malam ketika doaku terasa terhenti, hari ketika kesendirian menjadi guru yang sunyi, saat hujan pertama membawa rasa lega yang tidak kumengerti, hingga ketika aku belajar melepaskan—aku menyadari bahwa semuanya tidak pernah hadir untuk menjatuhkanku. Justru semuanya hadir untuk menguatkanku.
Aku bukan kehilangan arah.
Aku sedang dipersiapkan.