Doa untuk Mu

Davie Al-Fattah
Chapter #7

Pertemuan Yang Tak Disangka

Aku tidak pernah meminta hari itu datang. Tidak pernah menunggu, tidak pernah memintanya, tidak pernah mengantisipasinya. Setelah perjalanan panjang dari gelap menuju terang—dari kehilangan menuju pemahaman—aku merasa sudah cukup hidup dengan tenang. Sudah cukup baik berjalan perlahan, tanpa gegas, tanpa ingin membuktikan apa pun. Tapi hidup memang punya cara sendiri untuk menguji sesuatu yang kita kira sudah mengakar kuat. Ketika aku mulai merasa tenang, justru di situlah sesuatu yang lama terkubur datang mengetuk kembali. Bukan untuk menghancurkan—sekarang aku mengerti itu—tetapi untuk memastikan: apa aku benar-benar sembuh? atau aku hanya pandai menyembunyikan luka?

Pagi itu terlihat biasa. Bahkan terlalu biasa. Matahari muncul dengan santun, angin membawa aroma yang ringan, dan langkahku tidak memikul apa pun selain niat untuk menjalani hari seperti hari-hari sebelumnya. Aku merasa damai—damai yang sederhana, damai tanpa pretensi, damai yang tak lagi menyeret-nyeret masa lalu. Tapi seperti yang sudah sering terjadi dalam hidup: kedamaian kadang adalah gerbang menuju ujian baru. Aku tiba di tempat itu tanpa rencana. Tanpa persiapan. Tanpa mental siap untuk menghadapi apa pun. Aku hanya mengira hari itu akan berlalu ringan. Namun langkahku terhenti saat melihat sesuatu yang tak pernah aku sangka akan kembali muncul dalam hidupku. Tidak ada nama khusus untuk keadaan itu. Tidak juga bentuk konkret seperti orang tertentu. Tapi ia adalah situasi.

Situasi yang dulu membuatku terjatuh sedalam-dalamnya, mengoyak diriku hingga aku tidak mengenal siapa aku dulu. Situasi yang dulu menjeratku, membuatku merasa tidak berharga, tidak cukup, tidak mampu. Situasi yang dulu membuatku putus asa, membuatku mempertanyakan rencana Sang Maha Pencipta, membuatku bertanya: “Apakah aku ditinggalkan?” Saat itu, melihat keadaan itu kembali di hadapanku—seakan waktu menertawakanku—seluruh tubuhku ingin membeku. Ada sesuatu yang mengeras dalam diriku, seperti reaksi tubuh alami saat melihat ancaman lama kembali muncul. Tapi sesuatu di dalam diriku… berubah. Aku mengira aku akan gemetar dan panik. Bayang-bayang masa lalu akan langsung menyerang, membuatku kacau lagi. Tapi tidak.

Tidak ada badai.

Tidak ada gelombang besar.

Tidak ada jantung yang berdetak tak karuan.

Yang ada justru… keheningan yang kuat. Seperti permukaan danau yang tidak terusik apa pun. Aku berdiri di sana—di depan bayangan lama yang dulu menelanku—dan aku merasakan sesuatu yang bahkan tidak pernah kubayangkan sebelumnya: Aku tidak lagi takut. Tentu saja tubuhku mengenali tempat itu. Pikiranku mengenalinya. Perasaanku mengenalinya lebih dulu. Ini adalah tempat di mana aku dulu kehilangan arah, kehilangan pegangan, dan kehilangan keberanian untuk melihat ke depan. Ini adalah tempat di mana aku pernah merasa sendiri, meski dikelilingi banyak orang. Tempat di mana aku pernah merasa kecil, bahkan tidak berarti.

 Saat aku melangkah masuk, potongan-potongan masa lalu datang menyergap. Bukan secara halus—melainkan seperti kilatan-kilatan ingatan yang menyentuh tepat di titik-titik yang dulu paling sakit. Tapi kali ini… aku mampu berdiri dan menyaksikannya tanpa runtuh. Aku berjalan menyusuri ruang itu seperti seseorang yang sedang menonton cuplikan film lama. Cuplikan tentang diriku sendiri—diriku yang dulu rapuh, takut, terjebak, dan tidak tahu caranya keluar. Aku melihat bayangan diriku yang dulu, duduk sendirian di sudut ruangan itu, dengan wajah lelah dan mata yang kehilangan cahaya. Diriku yang dulu, yang hanya bisa menelan semuanya, memendam semuanya, dan menganggap diri sendiri tidak punya hak untuk meminta pertolongan. Diriku yang dulu, yang hanya bisa berdoa dengan suara yang nyaris tidak terdengar—bukan karena tidak percaya, tetapi karena terlalu letih. Kini aku berdiri di tempat yang sama… tapi aku bukan orang yang sama. Perbedaan itu terasa tajam, tapi juga lembut. Seperti seseorang yang akhirnya pulih setelah bertahun-tahun tidak paham apa sebenarnya yang sakit. “Dulu aku yang di sini,” gumamku dalam hati. “Dulu aku yang hampir menyerah.” Dan anehnya, aku merasakan belas kasih pada diriku yang lama. Perasaan yang dulu tidak pernah muncul—karena dulu aku terlalu sibuk bertahan. Kini aku bisa melihat bahwa aku dulu bukan lemah. Aku hanya berada di situasi yang lebih besar dari kapasitasku saat itu. Dan aku bertahan sebisa yang aku mampu.

Lihat selengkapnya