Doa untuk Mu

Davie Al-Fattah
Chapter #8

Cahaya Di Ujung Nama Mu

Dunia terasa begitu bising, namun anehnya aku justru merasa terisolasi dari segala sesuatu. Seperti ada kaca tebal antara diriku dan kehidupan orang lain. Aku melihat manusia lain tertawa, berbicara, saling menyapa, berjalan dengan keyakinan, dan merajut harapan. Tapi aku hanya bisa menatap mereka dari kejauhan, seolah aku bukan bagian dari dunia yang sama. Saat itu, doa-doaku bukanlah permohonan indah yang naik ke langit, melainkan helaan napas penuh keraguan yang hanya bergema di dalam dadaku sendiri. Aku tidak tahu apakah Allah mendengar. Aku bahkan tidak yakin apakah aku sedang benar-benar berdoa, atau hanya mencoba menenangkan diriku yang hancur. Tapi sekarang, setelah melewati seluruh labirin batin yang panjang itu, aku baru menyadari satu hal:

Allah SWT selalu mendengar.

Yang tidak mendengar adalah hatiku sendiri—karena saat itu aku terlalu sibuk berusaha menghindar dari rasa sakit.

Perjalanan panjang ini membuatku sadar bahwa tidak ada satu pun doa yang hilang. Tidak ada satu pun langkahku yang sia-sia. Dan tidak ada satu pun air mata yang meluncur tanpa disaksikan oleh Allah SWT, Sang Maha Pencipta. Hanya saja, manusia sepertiku sering kali ingin semuanya terjadi segera. Aku meminta jalan keluar cepat, jawaban cepat, dan kesembuhan cepat. Aku ingin Ia memberikan solusi instan, tanpa aku harus merasakan pahitnya proses. Tapi Ia tidak terburu-buru. Dia bukan tidak peduli. Dia hanya menunggu sampai aku siap menerima cahaya yang selama ini kutolak. Dan ketika cahaya itu akhirnya mendekat, aku hampir tidak mengenalinya. Cahaya itu datang bukan dalam bentuk perubahan besar, bukan dalam bentuk kabar bahagia mendadak, bukan dalam bentuk keajaiban yang mengguncang hidup. Cahaya itu datang dalam bentuk ketenangan yang sangat lembut, seperti udara pagi yang menyentuh kulit tanpa suara. Aku merasakannya pertama kali ketika aku duduk sendirian tanpa merasa perlu melarikan diri dari pikiranku sendiri. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku bisa menghela napas dalam-dalam tanpa dada terasa sesak. Aku tidak tahu apa yang berubah. Tapi aku tahu bahwa sesuatu sedang sembuh di dalam diriku.

Ketenangan semacam itu tidak datang dari luar. Tidak datang dari manusia mana pun. Tidak datang dari situasi apa pun. Ketenangan itu hanya bisa datang dari Allah—karena hanya Dia yang tahu bagian mana dari hatiku yang paling retak. Aku mulai memahami bahwa doa bukan sekadar kata-kata yang kuucapkan. Doa adalah kesediaan untuk membuka pintu hatiku—meskipun pintu itu dulunya terpasang begitu rapat karena trauma, kecewa, dan rasa takut. Doa adalah keberanian untuk mengakui bahwa aku tidak bisa melalui semuanya sendirian. Dan ketika aku mengakui kelemahanku, di situlah sebenarnya kekuatan itu hadir. Seiring waktu, aku mulai melihat mukjizat-mukjizat kecil. Bukan mukjizat besar yang membuat orang berteriak "subhanalah" di media sosial atau bercerita dengan dramatis kepada orang lain. Mukjizat-mukjizat yang datang kepadaku adalah mukjizat yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang sedang belajar percaya. Mukjizat itu muncul saat aku bangun pagi tanpa rasa ingin menyerah.

Muncul saat aku bisa tersenyum sedikit saja setelah semalaman menangis. Muncul saat aku bisa duduk tanpa ingin meluapkan amarah kepada takdir. Muncul saat aku tidak lagi merasa iri dengan kebahagiaan orang lain. Muncul saat aku bisa berkata dalam hati:

“Ya Allah… kalau ini yang terbaik, aku terima.”

Di situlah aku sadar bahwa Allah sedang menuntunku menuju versi diriku yang tidak pernah kubayangkan.

Pada satu sore yang tidak sengaja menjadi titik balikku, aku menemukan diriku kembali duduk menghadap langit. Cahaya matahari sedang turun perlahan, menciptakan warna keemasan yang menyelimuti segalanya. Aku tidak sedang berusaha merenung. Tidak sedang berusaha mencari jawaban. Aku hanya duduk karena tubuhku terasa lelah. Tapi justru dalam kelelahan itu, hati menjadi lebih jujur.

Tanpa sadar, aku berbisik, “Ya Allah… aku lelah.”

Dan untuk pertama kalinya sejak sekian lama, aku merasa tidak malu mengatakannya.

Lihat selengkapnya