Doa untuk Mu

Davie Al-Fattah
Chapter #9

Doa untuk Mereka yang Tersisa

Perjalanan batin seseorang tidak pernah berhenti pada dirinya sendiri. Ada masanya ketika segala rasa yang dulu begitu pribadi kini berubah menjadi cahaya yang perlu dibagikan. Setelah semua malam panjang yang aku tempuh, setelah semua doa yang aku tinggikan dari dalam kehancuran, setelah semua perjumpaan yang tak disangka dengan keadaan masa lalu yang dulu pernah menjeratku, aku merasa hatiku kini bukan lagi rumah untuk luka, tetapi ruang untuk menyinari mereka yang masih tertinggal di kegelapan yang dulu pernah kutahu begitu dalam. Awalnya aku tidak tahu bagaimana caranya membagikan cahaya itu. Aku bukan orang suci, bukan juga seseorang yang selalu benar dalam mengambil keputusan. Aku hanya seseorang yang pernah jatuh sedemikian jauh, lalu dituntun perlahan kembali oleh tangan yang tak terlihat. Dan ketika aku menyadari bahwa aku bisa berdiri lagi, aku juga sadar ada banyak orang di sekelilingku yang masih terjebak di tempat gelap yang tak asing bagiku. Ada yang menyimpan patah hatinya dalam diam. Ada yang menahan kecewa yang ia pura-pura sanggupi. Ada yang kehilangan seseorang atau sesuatu tanpa tahu bagaimana cara merapikan ruang batinnya kembali. Ada yang terus menjalani hari dengan senyum tipis yang tidak pernah sampai ke mata. Aku melihat itu semua karena dulu aku juga begitu.

Suatu hari, aku duduk bersama seseorang yang tampaknya tidak pernah berani mengakui betapa lelah dirinya. Kami tidak bicara banyak, hanya duduk dan membiarkan diam itu menjadi bahasa yang cukup. Namun aku bisa merasakan getar halus di balik napasnya: getaran yang menahan sesuatu yang selama ini tak pernah ia izinkan keluar.

“Aku takut,” katanya akhirnya, dengan suara rendah yang seperti meminta maaf.

Aku mengangguk pelan. “Takut itu manusiawi. Tapi membiarkan diri sendiri terperangkap selamanya dalam rasa takut… itu menyakitkan.” Ia menatapku, mungkin berharap aku memberi jawaban cepat. Aku tidak memberinya apa pun selain satu hal kecil yang kupelajari: bahwa kejujuran pada diri sendiri adalah langkah pertama menuju cahaya.

“Kalau kau mau,” kataku, “ceritakan apa yang paling membuatmu berat.”

Dan ia bercerita. Tentang kehilangan. Tentang harapan yang runtuh. Tentang doa-doa yang ia rasa tidak pernah sampai. Tentang hari-hari yang ia jalani seperti mesin. Tentang malam yang selalu penuh pertanyaan. Aku mendengarnya dalam diam, dan saat ia berhenti, aku tidak memberinya solusi apa pun. Tidak ada kata-kata motivasi tinggi, tidak ada nasihat klise yang sering orang lemparkan hanya untuk mengisi ruang.

Yang kulakukan hanyalah mengucapkan satu kalimat pelan:

“Engkau tidak sendiri.”

Lihat selengkapnya