Doa untuk Mu

Davie Al-Fattah
Chapter #10

Dan Aku Berdoa Untuk Mu

Sejak kecil, aku selalu percaya bahwa setiap perjalanan, betapa pun panjang dan beratnya, pasti memiliki tempat untuk pulang. Aku tidak pernah tahu persis di mana tempat itu. Apakah sebuah rumah? Apakah seseorang? Apakah kenangan? Atau justru hatiku sendiri? Lama sekali aku mengira bahwa pulang berarti kembali pada sesuatu—atau seseorang—yang dulu pernah menjadi titik awal. Tapi malam ini, di meja kecilku yang sudah sepenuhnya akrab dengan tangis dan tinta, aku menyadari bahwa mungkin pulang bukanlah tentang kembali, melainkan tentang menemukan keberanian untuk berdamai dengan diri sendiri.

Malam ini, aku duduk di bawah temaram Lampu kecil di sudut meja memantulkan cahaya redup, cukup hangat untuk menemani sang malam yang dipekatkan oleh hitamnya malam, tapi tidak cukup terang untuk menyembunyikan bayanganku sendiri. Dan di dalam bayangan itu, aku melihat seseorang yang telah lama kutinggalkan: diriku sendiri. Sudah berapa lama aku tidak menuliskan doa untukku? aku pun sudah lupa. Aku lebih pandai menenangkan hati orang lain daripada memeluk hatiku sendiri. Lebih sering aku menjadi tempat orang-orang membuang lelahnya, sementara aku bahkan tidak tahu di mana harus menaruh lelahku sendiri. Di sepanjang perjalanan ini, aku sibuk menyembuhkan luka orang lain, sambil diam-diam membiarkan lukaku sendiri mengering tanpa pernah benar-benar ditangani. Mungkin itu sebabnya malam ini terasa berbeda.

Aku menarik napas panjang—pelan, rapi, teratur. Seakan aku sedang menyiapkan diriku untuk bertemu versi “Aku” yang selama ini bersembunyi di balik ketegaran dan topeng pura-pura. Lalu doa itu perlahan naik ke permukaan hati yang mulai sembuh oleh waktu :

“Ya Allah…

Lembutkanlah aku. Sebagaimana Engkau melembutkan tanah setelah hujan panjang.”

Kalimat itu membuat tubuhku bergetar. Selama ini, aku terlalu sibuk menjadi kuat, sampai aku lupa bagaimana rasanya menjadi lembut. Aku percaya kekuatan adalah tameng terkuatku, padahal justru kelembutanlah yang membuatku tetap waras. Bertahun-tahun aku membiarkan diriku menjadi keras, karena aku takut jika aku lembut, aku akan hancur. Tapi malam ini, aku mengakui sesuatu yang selama ini selalu kutolak: aku ingin kembali lembut. Aku ingin kembali menjadi manusia yang tidak takut menangis. Tidak takut berharap. Tidak takut mencintai.

Aku melanjutkan:

“Ajarkan aku mencintai tanpa syarat.

Tanpa harus mengikat,

tanpa harus memiliki,

tanpa harus menunggu kembali.”

Aku berhenti sebentar. Di belakang kelopak mataku, muncul wajah-wajah yang pernah singgah dalam hidupku. Beberapa tersenyum, beberapa menjauh, beberapa bahkan pergi tanpa jejak. Mereka semua adalah bagian dari perjalanan panjangku. Pernah aku mengira cinta berarti menggenggam. Kini aku tahu bahwa cinta yang digenggam terlalu erat justru lebih cepat patah. Setiap hal yang kucoba tahan, akhirnya hilang juga. Setiap orang yang coba kusimpan, tetap memilih pergi. Kini aku ingin belajar mencintai dengan cara yang lain:

mencintai tanpa mengekang,

memberi tanpa menghitung,

merelakan tanpa merasa kehilangan diri sendiri.

Di saat seperti itu, aku merasakan sesuatu meleleh dalam dadaku—sebuah kesadaran baru, lembut dan hangat. Aku terus berusaha melanjutkan lagi:

“Ya Allah,

Lihat selengkapnya