Namun itu adalah awal dari tugasnya, ia memang masih bekerja sebagai SPG pusat perbelanjaan itu. Tapi sewaktu-waktu ia bisa dimintai bantuan dalam keamanan negara, ia menyetujui hal itu karena ia tidak ikut pendidikan militer. Walau dia penduduk sipil, karena kemampuan dalam bertarung, persenjataan, dan kemampuan khususnya, maka ia mendapatkan kehormatan itu.
Seminggu telah berlalu, keadaan lingkungan sekitarnya mulai normal seperti umumnya, hal itu sekarang membuat ia merasa nyaman menjalani aktivitas.
Tetapi cerita sesungguhnya baru akan dimulai, ketika ia lewat di ruko elektronik ia mendengar sebuah berita. "Pemirsa, berita ini disampaikan dari pihak Antariksa, dikatakan akan ada dua meteor yang menuju Bumi yang mengarah ke bagian utara Bali. Dihimbau agar masyarakat di sana siaga, karena meteor tersebut akan jatuh malam ini," ucap pembaca berita.
Berita itu membuat Via kaget. "Ini benar-benar berbahaya... Aku berharap itu akan jatuh di tempat yang lapang," ucapnya.
Malam itu ia tidak tidur, ia terus memandang langit. "Menunggu itu menyebalkan sekali," ucapnya sambil menguap.
Tanpa ia sadari ia tertidur, sejenak ia bermimpi ada sosok aneh yang tengah bertarung dengannya, terdengar sebuah dengungan keras yang ia dengar.
"Meteor..." ucapnya dalam mimpi
Lalu ia pun membuka mata, memang benar meteor itu telah menembus atmosfer bumi. Dengan memejamkan mata ia berdoa, "Tuhan, tolong lindungi semua makhluk yang ada... Jauhkanlah mereka dari bahaya," ucapnya.
Tampak meteor itu semakin dekat dan terus dekat, lalu meteor itu jatuh di tempat berbeda dan berlawanan arah.
"Yang mana harus aku cari... Cahaya keemasan itu saja," ucapnya.
Segera ia menghidupkan motor dan menuju tempat itu, setelah beberapa puluh menit ia pun sampai di sana. Ia melihat ada percikan api, ia pun mengikuti jejak itu, ia melihat ada seseorang yang tengah marah-marah di balik karang.
Via perlahan berjalan di atas karang sambil mengawasi orang itu. "Aneh... Kenapa dia pakai baju besi emas itu, unik juga tuh baju besi," ucapnya dalam hati.
"Sial... Kemana perginya Receptor... Dia lolos lagi... Aku khawatir planet ini dalam ancaman... Heh... Sial..." ocehannya.
"Dalam ancaman apa maksudnya," ucapnya dalam hati, tanpa sengaja ia menjatuhkan kerikil.
Dengan sigap orang berbaju besi emas itu menembakkan laser, dan Via terperosok, ia berteriak dengan keras. Lalu orang berbaju berzirah emas itu menangkapnya. Tampak ia ketakutan dan masih memejamkan mata.
Setelah beberapa lama ia pun membuka mata, ia melihat pelindung kepala mirip helm itu dengan kepakan sayap Garuda di kedua sisi wajah. Dengan bagian mata berkaca hitam bermotif mata elang, ia sangat kaget.
Via turun dan langsung menampar keras orang itu. Hingga terseret dan menabrak karang-karang, tiang orang itu pun retak dan runtuh. Via sangat kaget karena tamparannya itu keras. Ia melihat di telapak tangannya lingkaran emas perak tiga lapis tingkat, kemudian orang itu bangkit dan mendekatinya.
Via berjalan mundur dengan rasa takut. "Jangan mendekat..." ucapnya dengan mengarahkan pistol ke orang itu. "Aku tidak mau menembakmu, cepat pergi," ucapnya.
Orang itu terus mendekat dan mendekat, ini membuat ia semakin merasa ketakutan, terpaksa ia melepaskan peluru.
Dengan cepat peluru itu melesat ke arah orang itu, dengan mudah ia tangkap dan Via terus menembakkan peluru. Dan orang itu tidak takut dan tidak mempan dengan pelurunya, kini dalam pistolnya tinggal satu peluru yang tersisa.
Dengan berjalan mundur ia memfokuskan semua pikiran dan tenaga pada pistolnya, tampak dari ujung pistol lingkaran emas yang muncul di tangannya kini muncul juga dagung pistolnya. Ia menembakkan peluru dengan tenaga penuh itu, orang itu menghindar dan benda itu mengarah ke lautan. Air laut terbelah dan peluru itu mengarah ke karang dan terjadilah ledakan besar.