Dompet Merah Jambu

Hai ini Litterane
Chapter #12

Rumah yang Punya Banyak Pintu

Dua jam sudah berlalu. Aku baru saja mengantarkan Pita ke rumahku bersama kakaknya. Meminta mereka untuk beristirahat di rumah saja karena kondisi rumah Neneknya sedang tidak baik-baik saja.

Saat aku kembali ke kamar Mamak, dapat aku lihat sorot mata yang kosong itu menatap lama pantulan dirinya sendiri di cermin.

"Mak, kalo Beno gak kerja biar Eri sama yang lain dulu yang bayar sisanya."

Aku melihat Mamak memasukkan cincin kawin dengan bapak ke dalam sebuah plastik yang aku tahu persis itu akan dijualnya agar bisa membayar hutang Beno.

"Jangan. Anakmu sudah dua. Pita mau masuk SD, Ri."

"Terus Mamak mau apa? Jual warisan dari Bapak?"

Mamak menghapus air matanya dan tertunduk. Aku tahu, pasti Mamak tidak menyangka jika Beno akan melakukan hal ini.

Bayangan, dua orang datang ke rumah kami dengan amarah yang menggebu-gebu, Tatang dan Basir masih sangat melekat diingatanku. Mamak kenal mereka sebagai kawan Beno sejak SMA, tapi mereka datang dengan ancaman mau membunuh Beno karena dia menggadaikan mobil Tatang dan menipu basir.

"Ri, coba hubungi Dara kakakmu, siapa tahu dia bisa tolong Beno. Anaknya si Dara sudah jadi polisi semua kan?" Ada harapan perkataan Mamak. Cuma aku sudah tahu apa jawaban Mba Dara jika aku sampaikan berita ini ke dia,

"Nanti ya Mak, aku tunggu Mas Tio pulang dulu biar aku diskusi sama dia."

"Kasian Beno, Ri. Anaknya masih kecil semua."

Dadaku terasa sesak mendengarnya. Aku tahu Mamak sedang ketakutan. Beno tetap anaknya, dan sekarang nyawanya sedang diancam. Tapi entah kenapa, setiap kali Mamak memohon agar kami menolong Beno, yang terlintas di kepalaku justru wajah anakku, anak Bang Rido, dan anak Tomi yang baru lahir. Bukankah mereka juga keluarga yang harus kami lindungi?

Aku mengerti Mamak ketakutan. Tidak ada ibu yang rela melihat anaknya diancam. Tapi di saat seperti ini, aku juga ingin Mamak melihat kami. Melihat bahwa kami semua sedang ikut menanggung akibat dari ulah Beno.

"Ri?" suara Bang Rido terdengar dari luar, dia memanggilku untuk berbicara berdua meninggalkan Mamak sendiri di kamar.

Suasana rumah Mamak masih berantakan, pasalnya barang-barang yang pecah berserakan akibat ulah Tatang dan Basir belum juga dibereskan.

Bang Rido menarikku untuk menceritakan semua yang terjadi dua jam yang lalu. Dengan semampuku aku menyampaikan tanpa ada mengurangi atau menambahi sedikitpun. Reaksi Bang Rido cenderung datar, tidak ada lagi mimik wajah yang lain.

Dibanding kami berenam, Bang Rido adalah orang yang jarang menunjukkan ekspresi, tapi kalau dia sudah marah kami semua dibuat mati kutu oleh dirinya.

Kata Bang Rido tadi, ada kemungkinan Beno atau Sita sudah balik karena motor mereka sudah terparkir di depan teras. Aku menggeleng kepala tidak percaya, karena baik Beno ataupun Sita tidak ada yang mengetuk pintu kamar Mamak untuk sekedar menanyakan kenapa tekwan tumpah di ruang tamu.

Mereka malah lebih memilih mengurung diri di kamar. Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh anak laki-laki kesayangan Mamak itu.

Bang Rido mengajakku untuk mengobrol di teras, agar suasana lebih adem karena angin segar. Namun saat sampai di teras aku langsung memijat pelipisku, pusing melihat apa yang sedang terjadi di dalam rumah ini, "Kenapa Bang?"

"Untung kamu sudah punya rumah sendiri, Dek."

Dahiku berkerut mendengar penyataan dari Mas Rido yang cukup membingungkan, "Kenapa lagi, Bang?"

Lihat selengkapnya