Dulu, Mamak sengaja meminta kami anak-anaknya untuk tinggal di dekat rumah. Kata Mamak saat itu, biar kami bisa saling jaga Mamak dan bahu membahu membantu kalau ada masalah. Sebagai anak, kami hanya mengikuti kemauan Mamak.
Sebagai anak perempuan satu-satunya yang tinggal di dekat rumah Mamak, aku sudah banyak sekali menyaksikan bagaimana Beno yang suka berlaku semena-mena. Dia bahkan hampir menggadai motor suamiku saat kami masih satu atap dengan Mamak. Beruntungnya aku yang sadar secepatnya waktu kejadian itu dan meminta Mas Tio untuk membangun rumah sendiri, biar kami tidak diusik lagi.
Aku tidak menyangka jika Beno akan melakukan hal seperti ini lagi bahkan lebih nekat dari sebelumnya. Napasku terasa sesak ketika membayangkan bagaimana jadinya jika rumah Mamak nanti akan diambil oleh bank.
Bukan hanya Mamak. Tapi semua saudaraku yang tinggal di sana akan kehilangan tempat tinggal.
Bahkan satu-satunya kenangan terakhir kami dengan Bapak akan musnah begitu saja.
Ya Allah.
Kenapa setelah Bapak pergi semuanya jadi berantakan seperti ini?
***
Langkahku berhenti di depan rumah, sudah ada motor Mas Tio di teras. Aku memasuki rumah dengan mencoba mengubah ekspresi menjadi biasa saja. Mas Tio yang sedang duduk di ruang tamu itu langsung tersenyum melihatku masuk ke rumah, dia mendekat ke arahku dengan sebuah piring berisikan sate ayam di sana.
"Ini ada rezeki dari kantor," katanya sambil menarikku untuk duduk di sofa, "Punya Pita sama Rita udah aku taruh di meja makan."
"Anak-anak lagi tidur yah," tukasku memberi tahu Mas Tio saat dia membukakan bungkus sate itu.
Tapi runtuh pertahananku saat melihat bagaimana suamiku mengarahkan sate itu ke arahku. Mataku menatap nanar Mas Tio lalu memeluknya erat. Aku tidak mampu berkata selain tersedu dipundaknya. Dapat kurasakan tangannya membelai lembut rambutku, lalu mengelus pundakku pelan, "Ya sudah nangis dulu baru nanti cerita kenapa."
Bahuku bergetar hebat, tidak mampu mengeluarkan sepatah kata apapun selain isakan yang diiringi dengan lemahnya tubuh yang semakin merosot ke pelukan Mas Tio.
"Ma-as..." tangisku dengan isakan yang semakin kencang.
"Nangis aja dulu gapapa."
Aku menggeleng kecil dengan lubang yang terasa sangat menganga di dada, sesak. "Serti... fikat rumah Ma.... mak, Mas."
"Kenapa?" Mas Tio menghapus air mata yang turun di pipiku, dia menatapku dengan sangat iba seolah tahu apa yang terjadi.
"Beno Mas..." Aku terisak menjelaskannya, "Beno gadaikan sertifikat rumah Mamak."
"Astagfirullah." Bahkan hembusan napas Mas Tio terdengar sangat berat ketika kembali memelukku. Aku tidak tahu lagi dengan apa yang terjadi setelah ini, sulit sekali membayangkan sesuatu yang indah.
Sore itu, di ruang tamu yang terdengar hanyalah isakan tangisku menggema di sana. Aku berharap Pita ataupun Rita tidak terbangun dan melihat bundanya ini menangis. Sempat aku berpikir bagaimana jika aku ada di posisi Beno, apakah aku akan dibela Mamak seperti itu?
Setelah setengah jam aku meluapkan emosi dengan menangis, Mas Tio membiarkan aku untuk duduk sebentar sebelum akhirnya dia menyuapiku sate ayam yang dia bawa tadi, "Makan sedikit ya, biar maag kamu ga kambuh."
Aku mengangguk pelan, lalu menerima suapan sate ayam itu. Biasanya perpaduan bumbu kacang yang gurih dan aroma bakaran yang khas selalu mampu mengguggah selera. Tapi kali ini, tidak ada rasa yang benar-benar singgah di lidahku. Semua tertutup oleh asin air mata yang belum mengering di pipi.
"Bismillah ya, Bunda, semoga setelah kamu habisin makan ini kita bisa dapat jawabannya," ujar Mas Tio lembut, berusaha meyakinkanku agar bisa menghabiskan sate yang sudah dia bawa, "Apapun yang terjadi, kita hadapin sama-sama ya."
Aku menatapnya dengan mata yang masih basah. Ada rasanya malu ketika aku harus menceritakan kondisiku ke Mas Tio, seolah aku ikut menyeret dirinya dalam kesusahan setelah menikah denganku.
"Mas aku bahkan ga tahu sertifikat rumah itu digadaikan untuk pinjaman berapa? Bahkan Mobil Tatang juga digadaikan berapa aku ga tahu Mas." Napasku terasa semakin sesak. Aku tidak sanggup membayangkan bahaya seperti apa yang sedang menunggu kami di depan. Kepalaku dipenuhi berbagai kemungkinan buruk, sementara dadaku terus dihimpit rasa cemas yang tak kunjung mereda.