"Mba, rumahnya bagus ini. Nanti mau renov rumah aku kayak gini juga."
"Di cat warna putih jadi makin keliatan luas ya, Ri."
"Nanti aku mau buat rumah juga deh, yang kayak gini aja."
Pujian demi pujian memenuhi ruang tamu rumah baruku. Gelak tawa saudara dan tetangga bercampur dengan aroma masakan yang masih mengepul dari dapur. Hari itu aku mengadakan syukuran sederhana setelah rumah yang selama bertahun-tahun hanya menjadi angan akhirnya berdiri utuh.
Namaku Eri. Anak keempat dari enam bersaudara.
Semua kakak dan adikku sudah berkeluarga. Sebagian besar bahkan sudah lebih dulu memiliki rumah sendiri. Hari ini akhirnya giliranku mengundang mereka datang, bukan lagi sebagai tamu yang menumpang di rumah Mamak melainkan sebagai tuan rumah.
Di sudut ruang tamu, Mamak berdiri cukup lama di depan foto keluargaku yang baru saja kupasang. Matanya berkaca-kaca, namun bibirnya tersenyum.
"Akhirnya ya Nak."
Hanya dua patah kata itu yang keluar dari bibirnya.
Namun aku tahu. Di balik kalimat sederhana itu tersimpan puluhan tahun doa yang tak pernah berhenti Mamak panjatkan untukku.
Aku mengikuti arah pandangnya. Tatapan Mamak menyapi setiap sudut rumah dengan penuh kebanggaan. Dinding-dinding yang dicat putih membuat rumah sederhanaku terlihat lebih lapang dan hangat. Rumah ini berhasil aku bangun dengan jerih payah dengan suamiku, Mas Tio.
"Alhamdulillah Mak."
"Mamak senang, kamu udah punya rumah sendiri," tutur Mamak sambil memelukku erat, "Semoga adikmu si Beno dan Bang Rido juga dipermudah untuk membuat rumah seperti ini."
"Iya Mak."
Mamak dikaruniai enam orang anak, tiga laki-laki dan tiga perempuan.
Si sulung kami, Bang Rido, bekerja sebagai pegawai pemerintah di bidang agribisnis. Setelahnya ada Mbak Dara, kakak perempuan tertua yang kini menetap di luar provinsi bersama keluarganya. Kakak ketigaku, Tara, pegawai kontrak di pabrik yang sama denganku.
Sementara dua adikku memilih jalan yang berbeda. Beno menekuni usaha perternakan ayam yang kini berkembang cukup pesat. Adik bungsuku, Tomi, dia juga menjadi pengusaha. Ia mengelola kebun karet dan membangun usahanya dari sana.
Meski kami menempuh jalan hidup yang berbeda-beda, Mamak selalu bangga pada kami. Baginya, apa pun pekerjaannya, yang terpenting adalah kami mencari dengan cara yang halal dan bisa menghidupi keluarga masing-masing.