"Alhamdulillah Mak. Harga getah karet lagi naik."
Wajah Tomi yang sumringah membuat Mamak ikut tersenyum bahagia, membuat suasana teras depan rumah menjadi hangat.
Sore itu aku main ke rumah Mamak, sambil menunggu Rita pulang sekolah. Biasanya angkot sekolah menurunkannya tepat di depan rumah Mamak, jadi sekalian aku menghabiskan waktu di sana.
Tomi baru saja menjual getah karetnya ke pengepul dengan hasil yang fantastis. Memang, harga getah karet sedang melonjak tajam karena permintaan ekspor pasar luar negeri meningkat.
Di antara kami berenam, Tomi adalah orang yang paling mengerti soal bertani. Bahkan kebun karetku pun selama ini dia yang mengurus. Berkat bantuannya, aku bisa fokus bekerja di pabrik tanpa terlalu khawatir dengan kebun.
"Kalau panan Beno, gimana? Aman ga?" tanyaku ketika Tomi mulai menyelipkan beberapa lembar uang ke tangan Mamak.
"Kurang tahu Mba," jawabnya sambil memasukkan kembali dompet ke saku. "Kayaknya hari ini baru bongkar kandang. Tadi aku lihat banyak truk keluar masuk di kandang ayamnya."
Kami memang punya kebiasaan seperti itu. Setiap kali mendapatkan rezeki sekecil atau sebesa apa pun, selalu ada bagian yang diserahkan kepada Mamak. Bukan karena Mamak yang meminta, tetapi karena sejak kecil kami diajarkan bahwa rezeki akan terasa lebih berkah ketika dibagikan.
Mamak yang menerima uang dari Tomi langsung tersenyum.
"Mamak selalu doain agar rezeki kalian semakin banyak. Melimpah, kayak air yang terus mengalir."
"Amiinnn..." jawab kami hampir bersamaan.
Meskipun kami semua sudah dewasa dan memiliki keluarga masing-masing, doa Mamak tetap menjadi penyemangat dalam setiap langkah. Kami percaya, restu orang tua bukan hanya membuat hati lebih tenang, tapi juga menjadi berkah yang mengiringi setiap usaha kami.
Saat kami hanyut dalam obrolan santai, Sita muncul dari halaman depan dengan senyuman yang tak kalah cerah dari Tomi tadi.
"Sudah panennya, Nak?" tanya Mamak. Dia bangkit dari kursinya, lalu ikut duduk lesehan bersama kami di teras.
"Alhamdulillah sudah, Mak," jawab Sita sambil melepaskan sendalnyaa. Di tangannya ada sekotak bolu sarang semut yang sepertinya baru dibeli di perjalanan. Kotak itu ia letakkan di hadapan Mamak.
"Ini Mak, ada rezeki tadi baru bongkar kandang ayam."
Mamak tersenyum senang, "Makasih ya Nak. Ini mau ngulang lagi ke kandang?"
"Iya Mak," jawab Sita, "Mau ambil baju Beno. Kayaknya malam ini kami nginep di sana."