Sesuai dengan janji Beno dan Sita kemarin, pagi itu kami berkumpul di rumah Mamak sambil menunggu mobil jemputan yang akan membawa kami ke kandang ayam milik mereka.
Aku membantu Mamak memilih baju yang akan dipakai, wajah Mamak sangat bersemangat. Awalnya dia ingin memakai gamis, tetapi aku menyarankan pakaian yang lebih praktis agar lebih nyaman dipakai saat berkunjung ke kandang ayam.
Mas Tio dan Pita sudah lebih dulu bersiap di atas motor, suamiku lebih memilih naik motor saja. "Kalau semua naik mobil nanti pasti berdesakan," katanya.
Jadi, yang berangkat menggunakan mobil hanya aku, Mamak, dan beberapa saudaraku yang lain.
"Beno bilang mobil apa, Mbak?" tanya Tomi sambil merapikan baju koko dan peci yang dikenakannya.
Aku menggeleng pelan. "Lupa tanya. Kemarin Sita cuma bilang nanti disiapkan mobil buat jemput kita."
"Bunda nanti ikut mobil atau sama Ayah?" tanya Rita yang baru saja mengisi botol minumnya dengan air putih.
Aku menoleh ke arah Mamak yang memandangku penuh harap. Beliau seolah enggan melepaskan genggamanku. Tak lama kemudian, kendaraan yang kami tunggu akhirnya berhenti di depan rumah.
Dari teras, pandangan kami semua tertuju pada suara mesin yang semakin mendekat. Dalam benakku, yang terbayang adalah sebuah mobil keluarga yang cukup nyaman untuk membawa Mamak.
Namun, harapan itu seketika pupus. Yang berhenti di depan rumah justru sebuah pikap putih dengan terpal biru menutupi bak belakangnya.
Aku terdiam. Tomi yang berdiri di sampingku ikut mengernyitkan dahi. Kami saling pandang tanpa sepatah kata.
"Yang ini mobilnya, Mbak?" bisiknya pelan.
Aku hanya mampu mengangguk. Dalam hati masih terselip harapan, mungkin ini hanya kendaraan pembuka dan akan ada mobil lain yang menyusul.
Pintu pikap terbuka. Tatang turun sambil tersenyum lebar. "Mak, maaf ya nunggu lama. Beno baru ngabarin tadi pagi."
Mamak membalas senyumnya. Sementara itu, pandanganku tak lepas dari bak belakang pikap yang hanya dialasi tikar dan dinaungi terpal biru. "Tang... kita semua naik ini?"
"Iya, Mbak. Mamak duduk di depan sama saya. Yang lain di belakang," jawab Tatang dengan nada meyakinkan. "Tenang, sudah dipasang terpal, jadi nggak kepanasan."
Ucapan itu membuat suasana mendadak hening.
Tomi langsung menoleh ke arah Uni yang sedang mengusap perutnya yang semakin membesar. "Mak, Uni lagi hamil. Kasihan kalau duduk di belakang begini," kata Tomi sambil berjalan mendekat ke arah Mamak. "Aku sama Uni naik motor aja, sekalian ngawal dari depan."
Mendengar Tomi berkata dmeikian, aku langsung menatap Mamak. Dia masih tersenyum walaupun dipaksakan.
"Nggak apa-apa," ujar Mamak pelan, "Yang penting kita sampai."
Jujur saja, dadaku mendadak sesak. Karena seumur hidupku, Mamak selalu begitu. Lebih memilih memaklumi daripada membuat orang lain merasa tidak enak. Padahal yang akan kami kunjungi bukan tempat orang lain, melainkan usaha milik anaknya sendiri.