Perjalanan menuju kandang ayam milik Beno dan Sita memakan waktu hamir setengah jam. Mungkin karena kami subuk mengobrol dan menikmati pemandangan sepanjang jalan, waktu terasa berlalu begitu saja.
Tidak lama setelah melewati rel kereta api tempat kami sempat berhenti, pikap berbelok masuk ke Gang Damai. Sekitar lima belas menit kemudia, sebuah kandang ayam yang cukup luas terlihat berdiri di sisi kanan jalan. Di sekelilingnya tumbuh beberapa pohon pisang dan pohon durian yang membuat suasana tidak terlalu gersang.
Pikap perlahan masuk ke halaman kandang ayam.
Beno dan Sita sudah berdiri di sana. Begitu melihat kami, keduana langsung tersenyum dan melambaikan tangan.
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga," ucap Beno sambil menghampiri kami.
Aku segera turun dan membantu Mamak menapakkan kaki di tanah. Wajahnya sangat berbnar melihat usaha yang selama ini hanya didengarnya dari cerita Beno.
"Masyaallah, luas juga ya, Nak," gumam Mamak pelan
Pandanganku menyapu seluruh area. Halamannya bersih dan rapi. Di salah satu sudut, karung-karung berisi pupuk ditumpuk berjajar, sementara di sisi lain tampak kandang membentang cukup luas.
"Itu pupuk kandang, Mba," ujar Beno ketika menyadari aku menatap sudut tersebut cukup lama, "Nanti dijual ke pengepul."
Setelah itu kami diajak berkeliling melihat isi kandang. Di salah satu sisinya terdapat dua kamar berukuran kecil yang biasa digunakan untuk beristirahat. Meski sederhana, kamar-kamar itu sudah dilengkapi tempat tidur, kamar mandi, serta beberapa perabot yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Meski aroma khas kandang ayam cukup terasa, ruangan itu tetap bersih dan nyaman untuk dijadikan tempat beristirahat.
Beno berjalan di depan sambil menjelaskan satu per satu bagian kandang. Sesekali ia berhenti untuk menerangkan cara kerja para karyawannya, mulai dari pemberian pakan hingga proses pengumpulan telur. "Kalau yang ini kandang ayam petelur, Mak. Sekali panen bisa dapat ribuan butir telur," jelasnya dengan nada bangga.
Mamak mengangguk-angguk sambil memperhatikan ke setiap sudut. Sesekali beliau tersenyum, sesekali pula mengucapkan istigfar pelan. "Alhamdulillah... Mamak senang lihat kamu sudah punya usaha sebesar ini."
Beno hanya tersenyum. Barangkali pujian sederhana dari Mamak itu lebih berarti daripada apa pun. Kami terus berjalan menyusuri lorong kandang. Suara ayam yang saling bersahutan memenuhi ruangan, berpadu dengan langkah kaki para pekerja yang sibuk menjalankan tugasnya.
Beberapa di antara mereka menundukkan kepala sambil menyapa Beno.
"Siang, Pak."
"Siang."
Dari cara mereka berbicara, terlihat kalau Beno cukup dihormati di tempat itu. Aku memperhatikan wajah Mamak yang tak henti-hentinya tersenyum. Tatapannya berkeliling ke seluruh kandang, seolah sedang mengingat setiap sudut yang dilihatnya.
"Mamak nggak nyangka bisa sebesar ini," ucap Mamak lirih.
Aku hanya tersenyum mendengarnya.