Dompet Merah Jambu

Hai ini Litterane
Chapter #5

"Agar" yang Tidak terlihat

Sejak perjalanan pulang dari kandang ayam Beno dan Sita, Mamak tidak berhenti membicarakan keberhasilan mereka. "Beno itu hebat ya. Dari kecil memang dia pekerja keras."

"Kamu tuh Er, buka usaha coba kayak Beno. Lumayan modal awal pakai gaji dulu. Kalau nggak mau ribet investasi aja ke adikmu. Pasti dia jujur dan bertanggung jawab banget sama modal yang kalian tanam."

Aku hanya tersenyum mendengar cerita Mamak yang berulang kali memuji adikku. Tentu saja aku ikut bangga. Melihat Beno berhasil membangun usaha dari nol membuat hatiku ikut senang. Tidak ada seorang kakak pun yang tidak ingin melihat adiknya berhasil.

Namun entah kenapa, di sela kebahagiaan itu ada rasa lelah yang tiba-tiba muncul. Bukan karena Beno berhasil. Bukan juga karena Mamak membanggakannya. Hanya saja, aku mulai sadar bahwa hidupku sekarang sudah berbeda.

Dulu mungkin aku masih bisa menjadi tempat keluarga meminta bantuan kapan saja. Tapi sekarang aku punya rumah yang harus kujaga, suami yang harus kuperhatikan, dan anak-anak yang membutuhkan kehadiranku.

Selama ini aku terlalu terbiasa mengatakan iya setiap kali keluarga membutuhkan sesuatu. Sampai terkadang aku lupa bertanya pada diriku sendiri, apakah aku masih sanggup?

Untungnya, ada seseorang yang selalu mengingatkanku bahwa aku tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Suamiku, Mas Tio.

"Kata-kata Mamak tadi jangan terlalu didengerin," bisik Mas Tio sambil mengelus tanganku pelan, diasepertinya bisa membaca ekspresi wajahku yang tidak enak.

"Aman Mas. Aku tahu Mamak nggak bermaksud apapun. Dia cuma senang lihat Beno berhasil," bisikku yang disambut dengan anggukan kecil Mas Tio,

"Dan kamu harus ingat. Kalau kamu juga yang bantu adik-adikmu sekolah dulu. Kamu sudah banyak bantu keluarga selama ini."

Aku terdiam mendengar ucapannya.

Kalimat sederhana itu membuatku sesak. Seolah menyadarkan aku akan sesuatu. Selama ini aku terlalu sibuk memastikan semua orang baik-baik saja sampai lupa kalau aku juga pernah lelah.

"Aku cuma takut, Mas," ucapku pelan.

"Takut apa?"

"Takut kalau aku nggak bisa bantu mereka lagi."

Mas Tio menatapku beberapa saat sebelum tersenyum kecil. "Ri, membantu keluarga itu baik. Tapi kamu juga punya keluarga yang sekarang harus kamu jaga."

Aku menunduk, yang dikatakan Mas Tio benar. Tapi entah kenapa sulit sekali untuk benar-benar kuterima. Karena sejak dulu aku terbiasa menjadi orang yang dicari ketika ada masalah.

Terbiasa menjadi orang yang berkata bisa, bahkan ketika sebenarnya aku sedang berusaha bertahan. Mungkin selama ini aku lupa satu hal. Bahwa menjadi anak yang baik bukan berarti harus selalu mengorbankan diri sendiri.

***

Besoknya.

Aku masih menjalani aktivitas seperti biasa. Pagi-pagi aku menyiapkan bekal Rita terlebih dahulu, lalu menyisihkan beberapa lauk untuk makan Mamak nanti siang.

Lihat selengkapnya