Keesokan paginya aku kembali berangkat ke pabrik seperti biasa.
Setelah mengantar Rita ke sekolah, Mas Tio langsung mengantarkanku ke tempat kerja. Pita kembali kutitipkan di rumah Mamak karena hari itu tempat bermain di pabrik sedang dipakai untuk perbaikan beberapa rak.
Suara mesin-mesin produksi sudah terdengar sejak aku melangkah masuk ke area pabrik. Beberapa rekan kerja bahkan sudah mulai bekerja lebih dulu.
"Selamat pagi, Ri," sapa beberapa rekan kerja yang berpapasan.
"Pagi." Aku langsung mengenakan celemek kerja lalu menuju meja packing.
Belum juga pekerjaanku dimulai, Bu Rina, kepala bagian packing, sudah menghampiriku, "Eri, nanti setelah istirahat tolong bantu di bagian pengecekan, ya. Cuma cek stok aja ya."
Aku sedikit terkejut mendengar permintaan itu, karena memang sangat berbeda dengan jobdesk ku, tapi beginilah yang terjadi di pabrikku selagi masih ada yang menghandle semua akan baik-baik saja, "Loh, memang Mbak Wati ke mana, Bu?"
"Dia izin. Katanya anaknya sakit."
Aku mengangguk pelan, mengiyakan perkataan Bu Rina."Baik, Bu."
Padahal pekerjaan di mejaku sendiri sedang cukup banyak. Tapi aku tidak enak kalau harus menolak. Lagipula, selama masih sanggup, aku memilih mengerjakannya saja.
"Ri," panggil Santi. Dia rekan kerja pabrik yang biasanya duduk di sebelahku saat akan melaksanakan packing.
"Kamu tuh enak ya. Sama Bu Rina dipercaya terus." Santi berujar lagi sambil menatapku dengan senyuman tipisnya, "Tapi aku lega, seenggaknya di bagian packing kita punya andalan kayak kamu yang selalu di percaya oleh Bu Rina."
Aku tersenyum kecil merasa malu dengan pujian itu, karena menurutku semua sama di sini, "Ah, biasa aja."
"Biasa dari mana. Tiap ada orang izin, yang dicari pasti kamu buat gantiin, kalau kata orang zaman sekarang serba bisa."
Menanggapi hal itu, aku hanya tertawa pelan. Meski begitu, dalam hati aku mulai menghitung apakah pekerjaanku sendiri bisa selesai tepat waktu hari itu.
Soalnya, aku sudah berjanji dengan Gita untuk mampir ke kebunnya yang sedang panen petai dan durian. Lagi pula, kebun Gita berdekatan dengan kandang ayam milik Beno dan Sita, jadi sekalian saja aku berkunjung ke sana.
"San, aku cek target packing kita dulu. Hari ini masih kurang berapa lagi?" ujarku sambil mengenakan topi pelindung kepala.
"Sumpah, aku kagum banget sama kamu yang cekatan," puji Santi sambil tersenyum. "Ya udah, cek aja dulu. Mumpung yang lain belum datang, jadi kita bisa mulai lebih cepat."