Dompet Merah Jambu

Hai ini Litterane
Chapter #10

Malam yang Menyisakan Tanya

Rumahku malam itu terlihat sangat ramai, dengan Pita yang tidak henti-hentinya bercerita tentang permainan yang ia lakukan di rumah Mamak, sesekali juga dia menyebutkan nama teman-teman barunya yang mana merupakan anak tetangga di sebelah rumah Mamak.

Sementara anakku yang sulung sedang duduk di depan teelvisi sambil mengerjakan pekerjaan sekolahnya. Sesekali Rita mengangkat kepala untuk ikut menyahut ketika adiknya mulai bercerita terlalu berlebihan.

Aku meletakkan sepiring Mangga yang sudah aku kupas dari hasil kebun Gita di sebelah meja belar lipat milik Rita, sekalian agar dia bisa mengunyah sambil belajar. Bersama dengan itu, kubagikan juga ciki dan minuman kaleng yang tadi aku sempat ambil dari lemari ruangan Bu Rina.

"Wah, banyak jajanan!" Pita berseru dengan matanya yang berbinar.

Aku tersenyum melihat kedua anakku yang saling berebutan mengambil ciki, sementara suamiku yang sejak tadi duduk di sampingku perlahan mengurut bahuku yang terasa pegal. Karena sebelumnya aku sudah bercerita perihal membantu Bu Rina untuk mengerjakan data laporan pabrik.

"Jadi kebunya Gita memang dekat sama kandang Beno dan Sita?" tanya Mas Tio.

"Iya, Yah" jawabku dan menyandarkan punggung ke arahnya, "Ternyata deket banget. Tadi aku juga sempat ngeliat Beno di sana, lagi metik rambutan sama anaknya Pak RT."

"Kata Gita sih mereka memang sudah akrab gitu."

Belum sempat aku melanjutlan cerita terkait luasnya kebun Gita, raut wajah Mas Tio berubah drastis. Bahkan tangannya yang tadi sempat memijat bahuku perlahan berhenti.

"Kenapa, Yah?" tanyaku heran. Karena jarang sekali aku melihat Mas Tio berekspresi seperti ini.

Sebelum Mas Tio sempat menjawab pertanyaanku, pandanganku justru berubah ke Rita yang sudah lebih dulu mengangkat kepalanya dari buku yang sedang dia kerjakan dan menatapku, "Bunda," panggilnya kecil.

"Iya, Kak?"

"Tadi siang, orang yang nganter kita ke kandang ayam Om Beno datang ke rumah Nenek."

Ucapan Rita barusan membuatku langsung kembali menoleh ke arah Mas Tio yang juga menatapku, "Si Tatang. Kenapa dia?" bisikku ke arah Mas Tio.

Lalu aku kembali menoleh ke Rita, "Loh, dia mampir nyari Om Beno Kak?"

Rita yang mendengar itu lantas menggeleng kecil, tentunya anak sekecil itu tidak tahu pasti apa yang terjadi, "Nggak tahu Bunda. Tadi waktu Rita di sana mau jemput Pita, dia marah-marah sama Nenek. Ngomongnya keras banget, terus tadi nunjuk-nunjuk Tante Sita."

Aku menoleh ke Mas Tio yang hanya menghembuskan napas beratnya, bahkan wajah suamiku lebih serius daripada tadi, "Feeling Mas nggak enak."

"Kenapa, Mas?" tanyaku pelan. Aku tahu karena Mas Tio bukan tipe orang yang mudah berprasangka. Namun, setiap kali ia mengatakan ada sesuatu yang tidak beres, biasanya memang akan terjadi sesuatu.

"Kayaknya adikmu lagi ada masalah di usahanya."

Namun ketika mendengar perkataan selanjutnya, dengan cepat Aku menggeleng, berusaha mengusir pikiran buruk itu. "Nggak mungkin, Mas. Beno itu orangnya terbuka. Kalau usahanya benar-benar bermasalah, pasti dia sudah cerita ke kita dari awal."

Mas Tio tidak langsung membalas. Ia hanya mengembuskan napas pelan, seolah masih memikirkan sesuatu yang belum ingin ia ucapkan.

"Tapi Bunda," Rita kembali menyela obrolan Aku dan Mas Tio dengan suara pelan, "Habis Om itu pulang, Nenek nangis."

Lihat selengkapnya