Sore itu, setelah pulang kerja, Gita ingin menepati janjinya untuk mengajakku mampir ke kebun keluarganya yang sedang memasuki masa panen nangka dan petai. Aku sudah membayangkan bisa melihat hasil kebun mereka secara langsung.
Namun, rencana itu akhirnya tidak berjalan seperti yang kami harapkan. Keluarga Gita ternyata sudah memiliki agenda makan malam bersama di kota, sehingga kami tidak sempat pergi ke kebun. Sebagai gantinya, Gita memberitahuku bahwa keluarganya akan menjemputnya langsung ke pabrik.
Begitu mereka tiba, Gita segera menghampiriku sambil membawa sebuah kantung plastik hitam berukuran besar. Tanpa banyak bicara, ia menyodorkan kantung itu kepadaku.
"Ini buat kamu, Ri." Aku menerima kantong plastik hitam berukuran besar itu dengan senyum lebar. Begitu melihat isinya, mataku langsung berbinar.
Ada begitu banyak nangka muda dan petai di dalamnya. Rezeki seperti ini rasanya sayang kalau tidak dimanfaatkan. Selain bisa kumasak untuk keluarga, sebagian juga bisa kubagikan kepada saudara-saudaraku.
Tidak lama kemudian, Mas Tio datang menjemput. Begitu melihat kantong besar yang kubawa, matanya langsung membulat. "Banyak banget, Bunda."
Aku hanya terkekeh kecil sambil mengangkat kantong itu. "Sekalian, nanti bisa dibagi-bagi."
Selama perjalanan pulang, aku bercerita kepada Mas Tio tentang kebun milik Gita yang ternyata letaknya tidak jauh dari kandang ayam Beno dan Sita. Dari situlah pembicaraan kami berlanjut tentang hasil panen nangka dan petai yang sedang melimpah.
Aku menceritakan bagaimana Gita memberiku begitu banyak hasil kebun keluarganya. Rasanya sayang jika hanya disimpan begitu saja, apalagi jumlahnya cukup banyak untuk diolah menjadi beberapa masakan.
Sesampainya di rumah, pikiranku langsung tertuju pada menu yang bisa dibuat dari pemberian Gita. Aku memutuskan memasak gulai nangka dan sambal teri petai. Menurutku, dua hidangan itu paling cocok karena bisa dimasak dalam jumlah banyak, sebagian untuk keluarga dan sebagian lagi bisa kubagikan kepada saudara-saudaraku.
Namun, baru saja aku hendak mulai memasak, Mas Tio langsung menahanku. "Istirahat dulu, Bunda. Dari tadi kerja, terus habis itu jalan lagi."
"Nanti aja istirahatnya, Mas. Takut nangkanya keburu nggak segar," jawabku sambil tetap membawa bahan-bahan ke dapur.
Mas Tio hanya menghela napas mendengar jawabanku. Meski beberapa kali mengomel, akhirnya dia tetap membiarkanku memasak.
Sementara aku sibuk di depan kompor, diam-diam Mas Tio ikut membantu. Dia mencuci peralatan yang kotor, mengambilkan bumbu yang kubutuhkan, bahkan merapikan dapur yang mulai berantakan.
Beberapa saat kemudian, gulai nangka dan sambal teri petai akhirnya matang. Aroma masakan memenuhi seluruh rumah. "Kamu tuh bisa nggak, sesekali mikirin diri sendiri?" oceh Mas Tio sambil mengumpulkan sampah bekas memasak.
Aku menoleh ke arahnya. "Kalau capek ya istirahat. Nggak semuanya harus dikerjain sekarang."