Malam itu, setelah seharian beraktivitas, aku, Mas Tio, dan anak-anakku memutuskan untuk makan malam di rumah Mamak. Rasanya sudah cukup lama kami tidak menikmati waktu bersama seperti itu, berkumpul tanpa terburu-buru, hanya sekadar duduk dan bercerita sambil menikmati masakan rumahan.
Kebetulan malam itu hampir semua anggota keluarga sedang berkumpul.
Rumah Mamak yang biasanya tenang mendadak terasa begitu hidup. Suara tawa dan obrolan saling bersahutan dari ruang keluarga, sementara aroma masakan yang baru matang masih memenuhi seluruh rumah. Seperti biasa, kami menggelar tikar di lantai ruang keluarga. Masing-masing mengambil nasi dan lauk, lalu duduk melingkar menikmati makan malam bersama.
Di depan kami, televisi tetap menyala menayangkan sinetron favorit Mamak yang hampir tak pernah ia lewatkan setiap malam. Meski sedang makan, perhatian Mamak sesekali masih tertuju pada layar televisi, membuat kami hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya.
"Memang ya, dasar jahat si Galih ini!"
Dengan mata yang penuh emosi, Mamak menunjuk layar televisi yang sedang menampilkan adegan sang aktor berbuat jahat kepada pemeran utama. Wajahnya benar-benar serius, seolah-olah kejadian dalam sinetron itu benar-benar terjadi di depan matanya.
Namanya juga Mamak, kalau sudah terbawa suasana, sulit membedakan antara cerita di layar dan kenyataan. Bahkan pernah suatu kali beliau berkata ingin menemui pemeran utama dalam sinetron itu untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang jahat. Mendengar hal seperti itu, kami sering kali hanya bisa tertawa.
Tingkah Mamak memang selalu berhasil menghibur. Sudah berkali-kali ia terbawa emosi hanya karena alur cerita sinetron. Rita bahkan pernah bercerita, ketika ia bermain ke rumah Mamak, ia tidak sengaja memergoki neneknya itu sedang menangis tersedu-sedu hanya karena salah satu sinetron favoritnya telah tamat.
Di sudut ruangan, Tomi duduk berdampingan dengan Uni. Sesekali ia menyendokkan nasi dan lauk ke mulut istrinya yang mulai kesulitan makan karena usia kehamilannya sudah semakin besar. Tak ada sedikit pun raut kesal di wajahnya. Justru ia tampak begitu sabar, bahkan tak lupa mengelap sudut bibir Uni ketika ada kuah yang menetes.
Melihat pemandangan itu, aku hanya bisa tersenyum. Tomi memang terkenal paling usil di antara kami bersaudara. Mulutnya sering tak bisa diam, hobinya menggoda siapa saja yang ada di rumah. Namun, di balik sifatnya itu, ia selalu berubah menjadi sosok suami yang penyayang setiap kali bersama Uni.