Dompet Merah Jambu

Hai ini Litterane
Chapter #9

Rezeki dan Pertanda

Dua minggu kemudian.

Kabar pengunduran diri Mbak Tara pun sudah menyebar di seantero pabrik dan membuat kehebohan kecil, karena ada isu jika Mba Tara bertahan sebentar lagi, dia bisa naik jabatan menjadi supervisi. Namun kemauannya sudah bulat untuk tidak bekerja lagi.

Tapat di dua hari sebelumnya, ia resmi berhenti bekerja. Beberapa rekan kerja sempat bertanya-tanya kenapa Mba Tara memilih resign padahal dia hampir ada di puncak karirnya. Aku hanya menjawab bahwa Mbak Tara ingin lebih fokus menemani tumbuh kembang sang anak. Setelah itu, semuanya kembali seperti semula meskipun banyak yang menyesalkan terkait pengunduran diri Mba Tara.

Setelah istirahat makan siang aku berencana untuk pulang cepat karena Gita akan mengajakku ke kebunnya. Jadi ku usahakan bisa menyelesaikan target packingku hari ini, sisa empat kotak lagi.

Saat sedang sibuk menyusun dan mengepak barang, terdengar suara pintu terbuka dari arah belakang Bu Rina tiba-tiba menghampiriku. "Ri, kamu bisa mengoperasikan Excel, kan. Bisa bantu saya?"

Aku menghentikan pergerakan tanganku dan menoleh ke arah Bu Rina. Ini pertama kalinya dia memintaku untuk membantu mengolah data. Meskipun tidak begitu mahir layaknya petugas administrasi, namun berbekal ilmu dari Mas Tio yang sering mengajariku dasar-dasar komputer, perihal mengolah data aku masih percaya diri untuk mengerjakannya, "Bisa, Bu."

"Bagus. Tolong bantu saya sebentar, ya. Saya ada urusan di luar, sedangkan laporan ini harus selesai hari ini."

Beliau menyodorkan beberapa lembar dokumen yang dipenuhi banyak angka kepadaku, "Kamu tinggal input datanya saja."

Aku menerima berkas itu dan sesekali membacanya, banyak sekali digit angka di sana, dengan cepat mataku kembali menatap Bu Rina untuk memastikan bantuan yang akan aku berikan kepadanya, "Input saja, kan, Bu? Nggak ada yang perlu saya ubah?"

Bu Rina tersenyum tipis sembari mengangguk, "Nggak usah. Tinggal samakan saja dengan dokumennya." Jawabannya terdengar begitu meyakinkan hingga menghilangkan sedikit keraguanku.

Lagi pula, aku hanya diminta membantu pekerjaan yang menurutku cukup sederhana. "Baik, Bu."

Aku mengikuti Bu Rina menuju ruangannya, tidak lama aku bertemu Gita yang sedang sepertinya ditugaskan untuk memeriksa bagian packing, dia sempat melambaikan tangan ke arahku. Aku membalasnya sambil tersenyum sebelum masuk ke ruangan Bu Rina.

Ruangan Bu Rina terasa jauh lebih tenang dibandingkan area packing, ya walaupun cuma dilapisi oleh dinding kecil saja. Bu Rina kemudian duduk di meja dan membuka file Excel di komputernya, lalu menjelaskan beberapa kolom yang harus kuisi. "Data dari berkas ini tinggal dipindahkan ke sini," katanya sambil menunjuk layar monitor, menjelaskan sedikit kepadaku.

"Kalau sudah selesai, simpan saja. Nanti saya yang lanjut." Aku mengangguk pelan mendengarnya, "Nanti Ibu ke sini lagi?"

"Aduh saya ga janji pulang cepat, pokoknya kerjain aja sampai jam pulang ya. Sudah itu kamu boleh pulang. Pokoknya anggap aja kamu yang lagi kerja biasa di sini, kalau mau makan apa minum ambil di lemari situ ya."

Sebelum pergi, Bu Rina sempat merapikan beberapa map yang ada di mejanya. Tangannya berhenti sesaat di atas sebuah map berwarna biru, lalu ia memasukkannya ke dalam laci meja dan menguncinya. "Saya keluar sebentar. Tolong dikerjakan dulu, ya."

"Iya, Bu."

Pintu ruangan menutup pelan bersama dengan kepergian Bu Rina. Menyisakan aku yang kini duduk di kursi Bu Rina. Tanpa berlama-lama Aku mulai memasukkan data satu per satu sesuai dokumen yang diberikan. Sesekali aku mencocokkan kembali angka-angkanya agar tidak ada yang keliru.

Di sela pekerjaan itu, mataku sempat menangkap sebuah file Excel lain yang masih terbuka di bagian bawah layar. Itu pasti milik Bu Rina, jadi aku tidak berani mengotak-atik yang tidak sesuai perintahnya.

Lihat selengkapnya