Sejak pagi, pikiranku tak pernah benar-benar tenang. Meski tanganku terus bergerak melipat kardus, mengoleskan lem, lalu menyusun barang ke dalam dus seperti biasanya, bayanganku berkali-kali kembali ke rumah Mamak.
Semalaman aku terus memikirkan ucapan Mas Tio. Kalau benar Si Tatang datang lagi hari ini, bagaimana nanti keadaan Mamak? Beno masih di kandang ayam atau sudah pulang? Kalau aku langsung ke rumah sudah pulang kerja apa itu pilihan terbaik?
"Kenapa Ri, kok kayak banyak pikiran?"
Suara Santi membuatku sadar dari lamunan. Aku mendongak dan melihat dia sudah berdiri di depan mejaku sambil berdecak pinggang.
"Mana ada," jawabku cepat sambil tersenyum tipis, mencoba mengatur ekspresi sedemikian rupa agar tidak kegelisahanku tidak terlihat sepenuhnya.
Santi mengangkat sebelah alisnya, dan kini melipat kedua tangannya ke depan dada, "Yakin?"
"Iya. Aman."
Aku kembali mengarahkan pandangan ke ruang ketua tim. Sejak pagi aku sudah beberapa kali mengecek ke sana, berharap Bu Rina datang. Namun hingga pukul sebelas siang, pintu ruangannya masih tertutup rapat."Bu Rina belum datang?"
Santi ikut menoleh ke arah yang sama dan akhirnya menggeleng, "Katanya izin. Ada urusan di kota."
Biasanya, kalau Bu Rina berhalangan hadir dia akan menitipkan pesan atau kertas di atas mejaku. Jujur, aku sedikit heran, tapi aku memilih mengabaikannya. Bagiku, ketua tim seperti Bu Rina pasti punya banyak tanggung jawab. Mungkin saja hari itu beliau benar-benar tidak sempat meninggalkan pesan.
Meski begitu, aku tidak memikirkan terlalu jauh dan kembali fokus bekerja. Untungnya, target packing hari itu tidak terlalu banyak. Aku berharap semua cepat selesai agar bisa segera pulang dan mampir ke rumah Mamak. Entah kenapa, sejak mendengar cerita Rita dan Mas Tio semalam, hatiku terus merasa gelisah.
***
Jam tanganku sudah menunjukkan pukul tiga sore setelah aku turun dari bis sampai di warung Bakso dan Tekwan yang sudah menjadi langganan aku dan Mas Tio kalau lagi mengidam Tekwan.
"Tekwannya buat dua puluh ribu ya, Bu," pintaku kepada pemilik warung. Sambil menunggu pesanan disiapkan, pikiranku kembali melayang.
Sejak semalam aku terus memikirkan bagaimana keadaan Mamak, dan berharap jika semua yang terjadi kemarin adalah kesalahpahaman semata.
"Ini, Nak." Aku mengambil tekwan hangat itu sambil mengucapkan terima kasih, lalu kembali berjalan kaki menuju rumah Mamak yang tidak terlalu jauh dari kedai tekwan ini.
Mas Tio masih ada urusan kerjaan di pabriknya, jadi aku memutuskan untuk pulang sendiri. Langkahku sampai di rumah yang lantainya masih beralaskan semen itu.
Tapi kali ini suasana rumah terlihat jauh lebih sepi dibanding biasanya. Motor Beno tidak terlihat di halaman. Begitu pula motor Tomi yang biasanya terparkir di bawah pohon seri.
"Mak..." panggilku pelan sambil melangkah masuk ke dalam.
Mamak hampir tidak pernah mengunci pintu depan saat siang hari. Alasannya sederhana, cucu-cucunya sering datang tanpa memberi kabar lebih dulu. Daripada mereka pulang karena mengira rumah kosong, jadi Mamak lebih memilih membiarkan pintu depannya tidak terkunci selama dia masih berada di rumah.
Dari arah dapur, Mamak muncul sambil mengusap tangan di baju daster yang dikenakannya. "Lah, udah pulang Nak?"
"Iya, Mak." Aku mengangkat kantong plastik yang kubawa. "Sekalian beli tekwan. Biar makan bareng."
Wajah Mamak langsung tersenyum. "Ya ampun. Padahal Mamak masak pindang."
"Udah lama ga makan tekwan, Mak." Aku mengikuti Mamak ke dapur. untuk mengambil wadah, dapat aku lihat di atas kompor yang menyala ada satu panci yang tertutup, sudah pasti itu pindang yang Mamak maksud, "Untuk makan sore aja Mak pidangnya."
"Iya deh, biar sekalian sama yang lain," ujar Mamak lalu mematikan kompor, dan membuka sedikit tutup panci agar uapnya keluar.
"Pita tidur siang, Mak?" tanyaku sambil menumpahkan Tekwan ke mangkuk plastik besar.
"Iya di kamar Mamak. Tadi sudah makan siang langsung tidur. Kecapean main sama anaknya Tia." Penjelasan Mamak membuatku tenang, dia mengambil alih memindahkan Tekwan ke dalam wadah besar, "Makan di ruang tamu aja, biar sekalian kalau ada yang datang bisa langsung makan."
"Iya Mak. Aku liat di Pita dulu ya," tukasku lalu melangkah ke arah kamar Mamak. Aku membuka pintu kamar Mamak yang di mana di sana terlihat anak bungsuku sedang tertidur dengan memeluk boneka kesayangannya.
Melihatnya tidur seperti ini kadang membuatku merasa bersalah karena tidak memiliki waktu untuk bermain di usia aktifnya, saat sedang mengelus rambut Pita yang sudah mulai panjang mataku tidak sengaja menatap ada secarik surat pembelian emas yang ada di buffet dekat lemari baju Mamak.
"Ri, tekwan Mamak tarok di meja tamu ya." Terdengar suara Mamak dari luar yang membuatku terkejut.
Belum sempat aku membaca surat itu, tirai kamar Mamak terbuka memperlihatkan Mamak yang berdiri di sana, "Ayo makan dulu, biarin anakmu tidur."
Mamak mengajakku duduk di ruang tamu dan memakan tekwan di sana, "Sita sama Beno ke kandang ayam Mak?"
Mamak diam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk ragu, seolah ada yang dia sembunyikan. Tiba-tiba aku ingat cerita Rita semalam terkait si Tatang yang datang ke rumah Mamak dan marah-marah.
"Padahal mereka baru jual ayam-ayamnya di kandang, masih sibuk aja ga bisa istirahat sehari apa Mak?" tanyaku sengaja memancing.
Raut wajah Mamak berubah drastis dari yang awalnya ragu itu menjadi sendu, "Memang sibuk, biarin aja."
Saat sedang menikmati tekwan sambil ngobrol ringan dengan Mamak. Gerakan tangan Mamak menyedok kuah langsung terhenti ketika terdengar suara ketukan pintu terdengar.
Mamak menoleh ke arahku sebentar sebelum menarikku untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa Mak?" tanyaku karena menangkap sorot khawatir di wajah Mamak.
"Jangan keluar sampai Mamak panggil kamu."
Aku menahan tangan Mamak ketika dia ingin melangkah pergi, "Siapa itu Mak?"