Dompet Merah Jambu

Hai ini Litterane
Chapter #14

Air Mineral di Minggu Pagi

Hening.

Bang Rido, Mba Tara, aku dan Tomi diam mengelillingi Mamak yang masih menangis karena perlakuan Beno semalam. Tidak ada yang kata yang bisa mengungkapkan betapa perihnya menjadi Mamak semalam.

Semuanya berkumpul di rumahku, membahas bagaimana hutang Beno akan lunas. Meskipun Mamak diperlakukan tidak baik oleh Beno, tapi dia tetap memohon kami untuk membantunya.

"SK aku sudah digadai untuk membeli motor waktu itu," ujar Bang Rido sambil menundukkan kepala, "Saat ini masih nyicil buat lunas."

"Aku sudah ga kerja lagi, jadi ga bisa." Mba Tara berkata lirih, dia menatap Mamak dengan penuh rasa penyesalan, "Nggak ada yang bisa aku kasih."

Sedangkan Tomi dia ikut menunduk, "Semua uangku sudah kepakai buat buka lagan baru dan kepakai buat pupuk. Maaf Mak."

Perlahan, semua mata kini tertuju padaku. Bahkan Mamak seperti memberikan harapan terakhirnya untukku.

Aku masih memiliki Rita dan Pita yang masih sekolah. Selama ini saja kebutuhan rumah tangga kami banyak terbantu dari gaji Mas Tio. Tabungan yang kmi miliki bukanlah uang lebih, melainkan simpanan untuk masa depan anak-anak.

"Ri," panggil Mamak dengan suara yang bergetar, "Kalau memang nggak sanggup. Mamak nggak akan maksa. Tapi, Mamak cuma nggak tega kalau rumah ini nanti diambil bank."

Aku tahu.

Rumah itu bukan hanya sekedar bangunan. Di sana Bapak menghabiskan sisa hidupnya, dan di halaman yang tidak luas itu kami juga tumbuh besar. Kalau rumah itu hilang, ke mana Mamak akan merasa pulang?

"Aku..."

"MAK TOLONG!" Suara teriakan Sita dari luar memecah keheningan rumah. Kami semua spontan berdiri lalu langsung berhamburan keluar.

Kondisi Sita yang terduduk di tanah bersama dengan anaknya itu membuat kami semakin panik. Mamak langsung berlari mendekati menantunya itu, "Ya Allah kenapa Nak?"

"Mak, Beno Mak." Sita menangis dengan nada yang begitu menyesakkan, "Ada Tatang bawa parang."

Begitu mendengar ucapan Sita. Mas Tio, Bang Rido, dan Tomi sontak berlari menuju rumah Mamak. Mba Tara dan Mamak langsung memapah Sita ke teras rumahku, sementara aku langsung berlari menyusul ketiganya dengan jantung yang berdegup tidak karuan.

Saat langkahku terhenti di halaman rumah Mamak, pemandangan pertama itu langsung membuatku membeku ketika Mas Tio dan Bang Rido sedang menahan tubuh Tatang yang mengamuk dengan sebilah parang yang sudah jatuh ke tanah.

"Kembalikan uangku Beno!" teriak Tatang sambil menunjuk Beno, "Mana uangku dasar penipu!"

Beno berjalan semakin mundur. Wajahnya pucat dan dengan suara bergetar dia mencoba menenangkan keadaan, "Tang sabar, uangnya ada tapi belum cair. Jangan gini, nanti semua orang tahu."

"Memang harus tahu!" bentak Tatang tanpa sedikitpun menurunkan nada suaranya, "Biar sekampung tahu kalau Beno yang mau nyalon jadi ketua RT itu penipu."

Suasana semakin riuh dengan beberapa tetangga yang berdatangan berdiri di depan rumah Mamak. Mereka saling berbisik, tapi tidak seorang pun berani mendekat,

"Turunkan emosi, kita selesaikan baik-baik," ujar Bang Rido dengan tegas.

"Baik-baik gimana?" Tatang mencoba menepis tangan Bang Rido yang masih berusaha menahannya, "Uangku hilang karena si penipu itu."

Aku menoleh ke arah Beno yang semakin menunduk dan tidak berani menatap Tatang.

Dan, untuk pertama kalinya, aku melihat adikku kehilangan semua kesombongannya. Kepalanya tertunduk. Bibirnya bergerak pelan, tetapi tak ada satu pun kalimat yang mampu membela perbuatannya.

"Beno!" Teriak Tatang menggelegar hingga membuat bisikan tetangga yang berkumpul itu terdiam, "Lusa. Kalau uangku belum kembali, jangan salahkan aku kalau parang ini yang memisahkan kepalamu dan lehermu."

Setelah melontarkan ancaman itu, Tatang akhirnya pergi. Namun, bayang-bayang ucapannya masih menggantung di udara. Tidak seorang pun berani membuka suara. Bahkan Beno hanya berdiri terpaku dengan wajah pucat.

Hening.

Para tetangga akhirnya perlahan pergi setelah Bang Rido meminta maaf terkait kejadian barusan, sementara Beno dia menatap takut Mas Tio yang kini berhadapan dengannya.

"Maaf Mas aku ganggu kalian pagi-pagi." Beno berujar lirih, dan tanpa menunggu jawaban Mas Tio dia langsung bergegas melangkah pergi, "Aku mau jual emas dulu."

Lihat selengkapnya