Suara jangkrik yang bersahutan menggema di teras, mewarnai keheningan yang menemani aku dan Mas Tio duduk di ayunan depan rumah.
Angin malam yang berhembus pelan, membuat beberpaa helai poniku bergerak pelan. Sesekali aku melirik ke arah dalam rumah, karena beberapa menit yang lalu aku baru saja mengawasi Mamak yang tertidur bersama Rita dan Pita.
"Mas," panggilku yang berhasil memecah sunyi, "Besok aku bantu ajukan pinjaman ke kantor ya."
Mas Tio yang sedari tadi menatap ke arah langit kini menoleh ke arahku, "Jangan."
Aku mengerutkan dahi ketika mendengar penolakan dari Mas Tio, "Loh, kenapa?"
"Biar Mas aja yang coba," jawabnya sambil menggenggam tanganku, "Siapa tahu bisa sekaligus membantu menutupi semuanya."
Aku menunduk menatap tangan kami yang saling bertaut, "Tapi Mas..."
"Tabungan kamu jangan sampai ke pakai karena masalah ini. Yang perlu kita pentingkan adalah kita punya uang simpanan untuk anak-anak ya." Suara Mas Tio benar-benar tenang saat menyampaikan itu, membuat diriku merasa bersalah karena aku tidak tahu sudah sejauh apa Beno melangkah yang membuat orang lain harus melangkah membereskannya.
Aku menyandarkan pipiku ke bahu Mas Tio, "Aku nggak tahu Beno gadaikan sertifikat rumah dengan pinjaman berapa Mas."
Sebenarnya aku takut saat mengiyakan permintaan Mamak. Aku sangat takut kehilangan banyak hal yang selama ini sudah kami perjuangkan.
"Mas mau kamu janji satu hal." Mas Tio berujar sambil mengelus kepalaku yang membuatku tersadar dari lamunan.
"Janji apa Mas?
"Kalau nanti kita berhasil menembus sertifikat rumah Mamak. Kamu yang pegang sertifikat itu ya. Jangan diserahkan lagi ke Mamak."
Di satu sisi, aku tahu permintaan itu akan membuat Mamak sedih. namun di sisi lain, aku juga sadar Mas Tio berusaha melindungi Mamak dari orang yang sama dan kejadian serupa.
Belum sempat kami melanjutkan pembicaraan, suara langkah kaki yang mendekat membuat aku langsung menegapkan badan.
Di bawah temaram lampu jalan, terlihat Beno yang berjalan menunduk perlahan mendekati rumah. Langkahnya gontai berbeda dengan Beno yang biasanya selalu melangkah dengan keangkuhan.
"Mas," bisikku yang langsung disambut dengan anggukan pelan Mas Tio, seolah dia paham apa yang akan aku katakan selanjutnya.
Saat Beno sudah berada dengan jarak satu meter dengan kami Mas Tio perlahan bangkit dari ayunan, aku pun ikut berdiri di sampingnya, "Kenapa?"
"Maaf Mas, Mba," ucap Beno sambil menundukkan kepala.