Dompet Merah Jambu

Hai ini Litterane
Chapter #16

Rasa Pahit di Air Gula

Pagi itu. Aku masih mengingat dengan jelas sekali bagaimana langkah kakiku memasuki pabrik seperti hari-hari biasanya.

Aku masih menyapa beberapa orang yang berpapasan denganku. Masih mengenakan seragam yang sama, dan berjalan melewati lorong yang menghubungkan tempat kerjaku dengan ruangan HR.

Bedanya, kali ini aku membawa amplop berisi berkas untuk melakukan pinjaman ke pabrik secara tanpa sepengetahuan Mas Tio. Aku sengaja tidak mengatakan apa pun kepada Mas Tio.

Bukan karena ingin menyembunyikan sesuatu darinya, tetapi karena aku ingin sekali meringankan bebannya. Mas Tio sudah terlalu banyak membantu keluargaku. Aku tidak tega melihatnya kembali mengeluarkan uang untuk masalah yang seharusnya menjadi tanggung jawab keluargaku.

Pintu ruangan Bu Rina sudah terbuka yang menandakan jika dia sudah berada di sana. Karena suasana pabrik masih cukup sepi, aku memutuskan langsung masuk. Berkas pinjaman ni membutuhkan tanda tangan ketua tim sebelum diberikan ke bagian keuangan.

Aku mengetuk pintu ruangan Bu Rina yang akhirnya membuat orang-orang di dalam sana menoleh kepadaku. Aku sedikit terkejut mengetahui ada Pak Sugi yang merupakan orang keuangan di sana dan Pak Andi yang merupakan ketua HR.

"Masuk."

Begitu pintu di buka dapat aku lihat Bu Rina duduk bersama dengan Pak Sugi bagian dari bagian keuangan dan Pak Andi dari bagian HR. Tidak ada senyuman sedikit pun di sana, sorot mata mereka tajam ke arahaku.

"Nah, datang orangnya," ujar Pak Sugi dengan nada yang sangat tidak mengenakan.

"Maaf Pak. Saya mau minta tanda tangan Bu Rina," ucapku meminta izin.

Pak Sugi maupun Bu Rina tidak menjawabku sama sekali, justru Pak Andi terlihat berdiri dari duduknya dan menoleh ke arahku dengan tatapan yang sangat dingin, "Ikut saya ke ruangan HR dulu."

"HR, Pak?" tanyaku mencoba meyakinkan jika aku tidak salah dengar.

"Iya." Pak Andi berujar lalu berjalan begitu saja melewati aku menuju ruangannya.

Bu Rina datang kepadaku dengan wajah yang tidak seramah biasanya. "Ayo Ri."

***

Aku lupa kapan terakhir ke ruangan HR setelah tanda tangan kontrak kerjaku tahun lalu. Ruangan itu tidak banyak berubah, bahkan ketika Pak Andi menyuruhku untuk duduk di kursi, tidak ada posisi yang berubah.

Beberapa detik kami diselimuti oleh keheningan yang membuat suara pendingin ruangan lebih kencang terdengar. Sampai akhirnya Pak Andi membuka map cokelat di depanku, "Sempat bantu Rina mengerjakan laporan kemarin?"

"Iya Pak," jawabku. Karena aku ingat betul bagaimana Bu Rina meminta tolong kepadaku. sesuai dengan data yang sudah di berikan sama Bu Rina.

Pak Andi yang duduk di hadapanku membuka sebuah map berwarna ckelat. Beberapa lembar kertas dikeluarkannya lalu diletakan di atas meja. " "Kamu tahu isi laporan ini?"

Kertas itu sama persis dengan yang kupegang saat membantu mengerjakan laporan Bu Rina. "Saya tahu, Pak. Tapi saya hanya memasukkan angka yang ada di catatan transaksi."

"Berarti kamu ikut mengerjakan laporan keuangan ini?"

Ada sesuatu yang tidak beres dari cara pertanyaan itu disampaikan, "Saya hanya membantu menyalin angka di dalam kertas ke excel."

Pak Andi menyandarkan tubuhnya ke kursi, sorot matanya tidak lepas dariku, "Ri, perusahaan menemukan adanya selisih uang dalam laporan ini."

"Selisih?" tanyaku mengulang apa yang dikatakan oleh Pak Andi tadi.

Ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi di kantor ini. Terlihat dari bagaimana Pak Andi tidak langsung menjawab pertanyaanku, dia malah menautkan jari-jari tangannya, "Jumlah selisih yang cukup besar."

"Saya hanya menyalin Pak, tidak menambahi ataupun mengurangi," tegasku untuk kesekian kalinya. Aku tidak pernah sama sekali mengubah data yang sudah tertulis di sana.

Lihat selengkapnya