Dompet Merah Jambu

Hai ini Litterane
Chapter #17

Seteguk yang Tertahan

Sore itu, langkahku benar-benar berat untuk masuk ke dalam rumah. Bahkan ketika pintu sudah dibuka oleh Mas Tio aku masih memandangnya lama. Dulu, rasanya ketika sampai rumah aku merasa tenang dan nyaman. Tapi kali ini, aku malah merasa malu karena sudah tidak bekerja lagi.

Mas Tio yang tadi sudah berjalan lebih dulu masuk ke rumah lantas kembali keluar sambil membawa segelas air, "Kenapa masih di luar Bun?"

"Liat depan rumah Yah, kayaknya menarik kalau ada bunga," kilahku sambil tersenyum tipis. 

"Nanti aja mikirnya, ayo masuk dulu," ujar Mas Tio sambil menarikku untuk masuk ke dalam rumah.

Mataku langsung di sambut pemandangan Rita dan Pita yang fokus menonton televisi, mataku memanas, karena aku berpikir sebagai ibu yang tidak berguna karena tidak bekerja. Aku melangkah cepat masuk ke dalam kamar, menahan air mata yang nyaris saja tumpah.

Tidak lama suara pintu kamar kembali terbuka. Aku merasakan Mas Tio yang mengelus punggungku pelan, lalu dia menarikku untuk duduk di kasur, "Ngobrol bentar yuk." ajaknya.

Ada secercah senyuman Mas Tio yang membuatku tenang, mataku menatap kepada kertas yang ada digenggamannya, "Itu?"

"Alhamdulillah pinjaman dari kantor udah cair. Jadi tadi udah langsung ngurus ke bank untuk sertifikat rumah Mamak."

 Sedikit rasa lega menjalar ke hatiku. Lengan Mas Tio terulur menarikku ke dalam pelukannya, "Alhamdulillah Mas."

Rumah Mamak sudah aman. Rasanya bahagia sekali ketika mengetahui bahwa satu masalah sudah selesai, namun aku kembali tersadar bagaimana dengan cicilan pinjaman yang diajukan oleh Mas Tio.

Apalagi Aku belum sanggup untuk menceritakan kalau aku sudah dipecat dari pabrik. 

"Kebetulan besok tanggal merah, kamu libur kan?"

Dengan terpaksa aku mengangguk kecil, "Kenapa Mas?"

"Kita tanda tangan hitam di atas putih untuk seluruh keluarga kamu. Mas tadi sudah ngomong sama Beno dan dia yang memberi tahu saudara kamu yang lain,"

"Sisa kita malam ini ngomong sama Mamak untuk perihal kamu yang memegang surat rumah mulai dari sekarang. Biar tidak ada kejadian yang sama terulang kembali."

"Besok kumpul di rumah Mamak ya sayang."

Setidaknya, satu hal yang selama ini membuat kami khawatir sudah menemukan jalan keluarnya. Rumah Mamak tidak lagi menjadi sesuatu yang bisa berpindah tangan dengan mudah karena keputusan sepihak salah satu saudaraku, Beno.

Tapi di samping rasa lega itu, kebohonganku tentang pekerjaan masih mengganjal. Melihat wajah tenang Mas Tio semakin sulit rasanya untuk mengatakan bahwa aku sudah tidak memiliki pekerjaan lagi.

"Kenapa?" tanya Mas Tio seolah tahu ada sesuatu yang tidak beres terjadi padaku, "Kamu dari tadi kayak nggak fokus dengan apa yang aku omongin."

Lihat selengkapnya