Dompet Merah Jambu

Hai ini Litterane
Chapter #18

Ruangan yang Hening

Rumah Mamak kembali ramai.

Semua anak Mamak berkumpul dengan lengkap kali ini. Bahkan Mba Dara yang biasanya jarang pulang juga sudah duduk di sofa bersama yang lainnya.

Kami sengaja tidak memilih membuat surat perjanjian keluarga ini di hadapan notaris karena akan ada prosesnya akan lebih panjang dan membutuhkan waktu. Jadi, dengan disaksikan seluruh saudara, surat itu dibuat sederhana di atas kertas A4 yang ditulis beralaskan papan clipboard.

Aku sendiri yang menuliskannya.

Suasana ruang tengah terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada yang banyak bercanda. Semua orang seolah menunggu apa yang akan dibicarakan waktu itu.

Beno menjadi orang pertama yang angkat bicara.

Untuk pertama kalinya, dia mengatakan semua kebohongannya di hadapan keluarga. Mulai dari tanah kebun Mba Dara yang ternyata dijual satu kapling dan sebenarnya ada niat hati untuk membuat beberapa kapling lainnya untuk dijual, sampai alasan sebenarnya kenapa sertifikat rumah Mamak bisa sampai berada di tangannya.

Kami bisa melihat perubahan wajah Mba Dara.

Tatapannya yang semula hanya penasaran perlahan berubah menjadi muak. Apalagi ketika Beno mengatakan bahwa tanah kebun yang selama ini Mba Dara kira masih menjadi milik keluarga ternyata sudah dijual.

“Jadi selama ini tanah itu sudah dijual?” suara Mba Dara terdengar menahan emosi.

Beno hanya menunduk, mengangguk kecil tanpa sedikitpun berani menatap Mba Dara.

Mba Dara mengembuskan napas panjang. Wajahnya masih terlihat kecewa, tetapi kali ini tidak ada lagi yang bisa dilakukan, “Ya udahlah. Udah jadi bubur juga.”

Tidak ada yang langsung menjawab, atau pun bereaksi. Bahkan Mamak juga hanya diam menyaksikan kami semua di sini.

"Maaf Mba, tapi kemarin aku terdesak."

Kalimat sederhana yang muncul dari mulut Beno itu justru membuat ruang tengah semakin sunyi. Namun sedikit pun tidak ada yang menjawabnya.

Satu per satu saudaraku yang lain mengalih pandangan ke Mamak, karena biasanya Mamak yang membela Beno. Tapi kali ini Mamak hanya diam tidak merespon siapa pun.

Aku menghembuskan napas panjang sembari menuliskan kolom tanda tangan untuk saudara-saudarku tanda tangan, di sana sudah tertulis kesepakatan mengenai perpindah tangan sertifikat rumah Mamak.

Mulai dari siapa yang memegang sertifikat, siapa yang bertanggung jawab menjaganya, sampai bagaimana keputusan mengenai rumah itu harus diambil ke depannya.

Semua harus jelas. Tidak boleh ada lagi keputusan yang dibuat secara diam-diam, dan bahkan mengambil sesuatu yang bukan haknya.

"Jadi, ini sama saja rumah Mamak sudah jatuh ke tangan Eri dong?" tanya Mba Dara spontan.

Bang Rido mengangguk, "Karena Eri dan suaminya sudah membantu mengembalikan sertifikat rumah ini, jadi tidak masalah."

"Kenapa kalian ga hubungin aku terlebih dahulu untuk diskusi siapa yang membayar. Sebagai anak perempuan pertama aku harus ikut andil Mak," Mba Dara mulai terdengar tidak terima dengan keputusan yang dibuat.

"Mba kami sudah coba telfon pakai HP, sampai ke wartel juga. Mba nggak angkat. Aku juga sudah sms Mba tapi nggak di bales," sahut Mba Tara kemudian menoleh ke arahku, "Lanjut aja Ri."

"Tapi kan nggak bisa dibuat secara sepihak begini," potong Mba Dara lalu menoleh ke Mamak, "Memangnya berapa sih uang yang dibayar untuk menembus rumah Mamak?"

"Delapan puluh juta Mba," jawabku tenang namun mampu membuat Mba Dara diam.

Lihat selengkapnya