"Kamu sudah lakuin yang terbaik." Pujian itu muncul ketika aku melangkah keluar dari rumah Mamak.
Mas Tio sudah menungguku di teras depan dengan senyuman bangganya. Dia menarikku untuk berjalan mendekat, beriringan melangkah pulang ke rumah kami.
"Mas yakin kalau setelah ini semua akan aman?" tanyaku ragu. Aku tidak sanggup membayangkan bagaimana kejadian setelah aku dipecat dari pabrik.
Bagaimana aku bisa membantu suamiku untuk mencicil uang pinjaman di koperasi kantor Mas Tio bekerja?
Aku tidak sanggup membayangkan dia melakukan semua hal itu sendirian.
Tidak ada keraguan dari wajah Mas Tio, "Yakin. Selagi kita melewati semuanya sama-sama, Mas percaya itu akan baik-baik aja."
"Mas lihat reaksi Mba Dara tadi?"
Dia mengangguk kecil, "Biasa. Karena nggak semua orang bisa nerima sesuatu tanpa penjelasan terlebih dahulu."
Aku setuju. Mungkin Mba Dara melakukan itu karena baru pertama kali pulang ke rumah Mamak, dia sudah disuguhkan dengan kejutan yang luar biasa. Kebunnya dijual satu kapling oleh Beno, dan tiba-tiba harus menandatangani surat kesepakatan keluarga sertifikat rumah Mamak.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Selagi sertifikat ini kita pegang. Semua akan aman," ujar Mas Tio sambil mengusap punggungku pelan.
Tidak terasa, langkah kami sampai di depan rumah. Aku melangkah masuk duluan dan meletakkan map itu di atas buffet kamar tidur, lalu berjalan ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk suami dan anak-anakku.
"Sop ayam sama tempe goreng mau?" tanyaku kepada mereka yang sedang duduk di depan televisi menonton serial anak-anak.
"Bunda mau bakwan jagung ya," pinta Rita sambil mengangkat sebelah tangannya.
Mas Tio ikut mengangkat tangan, "Sama telur rebus di sopnya buat Ayah ya."
"Oke." Aku mengangguk dan menoleh ke Pita, "Kalau adek mau apa?"
"Mau disuapin aja sama Bunda nanti."
Sederhana. Tapi mampu membuat hatiku menghangat.
Aku melangkah ke dapur dan mulai mempersiapkan bahan untuk memasak semua permintaan dari suamiku dan anakku.
Sop ayam adalah menu favorit kami semua. Anak-anak juga sangat menyukai sayuran yang ada di dalamnya.
Saat Aku sedang merebus air, Rita datang ke arahku sambil membaww beberapa jagung dari kantong plastik bening itu, "Ini tadi di sekolah Bapaknya Putri panen besar jadi dia bagi-bagi sama anak kelas Bunda."
"Wah, makasih ya sayang."
Lumayan untuk simpanan sayur dua hari ke depan.
Setelah setengah jam akhirnya Aku menyelesaikan semua lauk pauk yang ku masak. Tidak butuh waktu lama karena kompor dua tungku itu sangat bermanfaat jika masak banyak.
Kulihat Mas Tio sudah membentang karpet di lantai untuk makan lesehan di sana. Rita membantuku mengambil nasi dari rice cooker, sementara Pita dia berjuang menyusun cangkir dan mengisinya dengan air dari dalam teko.
Rita kembali mengeluarkan enam buah jeruk dari dalam tas sekolahnya, "Bunda, ini manis katanya."
"Dari Putri juga?" tanyaku.
"Iya Bunda."
Mas Tio tersenyum tipis dan tidak banyak bereaksi, berbeda dari beberapa menit sebelumnya.
Saat kami sudah duduk lesehan di atas karpet, aku mengambil piring pertama kali dan menoleh ke Mas Tio, "Mau berapa centong, Yah?"