Dompet Merah Jambu

Hai ini Litterane
Chapter #20

Lebih Pahit dari Mahoni

Aku melingkari tanggal dua puluh tiga oktober dengan tinta merah. Senyumanku merekah saat menerima pesanan nasi kotak sebanyak tiga puluh kotak.

Sudah sebulan sejak surat kesepakatan sertifikat rumah Mamak terjadi. Syukurnya, semua aman. Tidak ada hal yang terjadi seperti apa yang kutakutkan.

Sembari menggoreng ayam dan tempe untuk catering nasi kotak, aku bersenandung kecil di dapur. Menyanyikan lagu favoritku dan Mamak.

"Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu."

"Kemesraan ini, inginku kenang selalu."

Ada rasa lega, dan aku bisa menghirup udara dengan tenang. Karena fokus permasalahan kami hanyalah menyelesaikan cicilan pinjaman di kantor Mas Tio.

Ketika sedang meniriskan ayam ke saringan. Suara ketukan pintu yang terdengar terburu-buru memecah konsentrasiku.

Tok.. Tok.. Tok..

Langkahku semakin cepat saat mendengar ada suara perempuan menangis di balik pintu.

"Ya Allah Sita, kenapa?" tanyaku setelah membuka pintu rumah.

Sita hanya diam sambil menangis keras. Dia membawa anaknya yang masih tertidur dalam gendongan, "Mba, Beno."

"Duduk dulu," ajakku membawa Sita ke ruang tamu, "Kenapa?"

"Beno Mba." Dia hanya bisa menyebut nama suaminya dan kembali menangis di hadapanku.

Merasa ada yang tidak beres aku buru-buru mengambil air putih untuk Sita yang masih tersedu di ruang tamuku.

Setelah berhasil memberikan segelas air ke Sita, aku memastikan dia benar-benar meneguknya, "Minum dulu, kalau udah tenang baru cerita sama aku."

Belum sempat Sita bercerita, Tomi sudah lebih dulu datang padaku dengan tergopoh-gopoh, "Mba Eri. Beno, Mba."

"Beno kenapa?" tanyaku yang semakin panik mendengar nama Beno disebut berulang kali.

"Mba.. Be.. Beno.. Be..no selingkuh," isak Sita yang tanpa sadar membuat anaknya terbangun dan iku menangis di dalam gendongan.

Tanganku mengambil alih anak Sita dan kembali menimang-nimangnya, "Kalian jangan kayak gini. Ada bayi loh di sini."

Setelah merasa Lala kembali tertidur, akh langsung melangkah masuk ke dalam kamar Rita dan menidurkan anak Sita di sana.

Dengan langkah yang menggebu aku mebi menghampiri Tomi dan Sita, "Apa? Nggak mungkin Beno selingkuh."

Tomi menggeleng, "Mba, sudah ketahuan di kandanh ayam mereka berbuat asusila. Dan saat ini diarak di sana."

Jantungku berdesir ketika mendengar ucapan Tomi. Mataku terarah ke Sita yang tidak henti-hentinya menangis, "Sama siapa Tom?"

"Sama anak Pak RT kemarin Mba."

Aku memejamkan mata, darahku hampir mendidih karena mendengar nama itu, "Tom, Mamak tahu?"

“Tom, Mamak tahu?”

Tomi terdiam. Tatapannya beralih kepada Sita yang masih menunduk sambil sesenggukan. “Belum, Mba.”

Aku mengembuskan napas panjang. Setidaknya Mamak belum tahu. Kalau sampai kabar ini terdengar dari orang lain sebelum kami sempat bicara, aku tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Mamak.

“Terus kenapa kalian datang ke sini?” tanyaku sambil memijat pelipisku, "Kalian yakin itu Beno?"

"Mba, harus ingat kalau kebunku dekat dengan kandang ayam Beno." Jawaban dari Tomi semakin membuatku tidak tenang, sementara Sita belum mampu menjelaskan apapun.

"Sita?" Aku menariknya ke pelukanku. Dia semakin terisak.

“Pak RT sana nyuruh kami cari Mamak,” jawab Tomi pelan, "Katanya warga mau bawa ke kantor polisi karena ini sudah pencemaran banget, dan pedofilia karena anak Pak RT masih delapan belas tahun. Sementara Beno hampir tiga puluh lima tahun."

"Tom, nggak bisa asal nuduh kalau nggak ada bukti."

"Mba, Beno digrebek nggak pakai sehelai benang pun dengan perempuan itu," jawab Sita yang mampu membuatku memejamkan mata.

Ada rasa malu yang sangat tidak bisa ku tahan saat ini. Begitu memejamkan mata justru sesak di dadaku semakin menjadi, "Ya Allah."

“Mba, kata Pak RT tadi Beno sama anaknya harus dibawa ke rumah Mamak dulu," ujar Tomi.

“Kenapa ke rumah Mamak sih?"

Tomi menggeleng. “Aku juga nggak tahu, Mba. Tapi orang-orang udah ramai mau ke sini, sambil mengarak mereka.”

Sita tiba-tiba meraih tanganku, “Mba E..ri...” Suaranya bergetar. “Aku malu.”

Mata Sita sembap, rambutnya berantakan, dan bajunya basah oleh air mata, “Yang harus malu itu Beno. Bukan kamu.”

Sita kembali menangis, aku bahkan tidak bisa membayangkan betapa sakit hatinya menjadi seorang istri yang sedang menyusui namun dikhianati oleh suami.

Aku berdiri dan menarik napas panjang. Ada amarah yang perlahan naik ke kepala. Bukan hanya karena Beno berselingkuh, tetapi karena aku tahu persis siapa perempuan itu.

Anak Pak RT.

Orang yang sejak kemarin sudah aku dan Gina curigai, ternyata benar mereka ada hubungan spesial. Terlihat sekali dari cara Beno yang selalu ke kandang ayam dan meninggalkan Sita di rumah Mamak sendirian.

Aku mengambil jaketku yang tersampir di kursi, “Tomi, kamu temani Sita di sini.”

“Mba mau ke mana?”

“Ke rumah Mamak.”

Tomi menahan tanganku, “Mba, kita semua ke sana saja sambil melindungi Mamak jika orang-orang itu sudah datang."

***

Aku tidak pernah menghitung berapa lama waktu yang ditempuh untuk sampai di rumah Mamak. Tapi tidak tahu mengapa hari itu rasanya sangat pelan sekali, padahal aku sudah berlari kencang.

Mas Tio masih kerja, anak-anakku juga masih bersekolah. Tidak ada yang mampu menguatkan aku selain Mamak untuk saat ini.

Aku melangkah masuk dari pintu belakang. Berjalan masuk langsung ke kamar Mamak, "Mak?"

Lihat selengkapnya