Sudah sejak sore hari kursi-kursi sudah di keluarkan, dan karpet dibentang di ruang tengah rumah Mamak. Para tetangga dan kerabag dekat keluarga juga sudah datang, membawa doa dan ucapan belasungkawa.
Para anak laki-laki Mamak membagikan buku yasin kepada tamu yang berdatangan. Sementara Aku hanya diam, menatap lama foto Mamak yang tersisa.
Tidak ada kata yang mampu aku jelaskan di hari itu selain sakit, sesak dan tidak percaya. Mataku sembab menangis selama tiga hari sejak kepergian Mamak.
Mas Tio yang berada di seberang sempat memberiku tasbih, katanya aku tidak boleh kosong. Harus mengirimkan doa ke Mamak agar kuburnya di lapangkan.
Tapi aku masih merasa Mamak ada di sini. Dia hanya pergi berkunjung ke rumah tetangga sebentar kan?
Aku mengusap air mata yang perlahan jatuh dari pelupuk. Hari itu, di mana rumah kami di datangi banyak orang, menjadi hari yang selalu ku ingat ketika Mamak menghembuskan napas terakhirnya dipelukanku.
Dokter bilang, karena serangan jantung.
Tapi aku bilang ini karena Beno. Anak laki-laki kesayangan Mamak itu yang tidak henti-hentinya membuat ulah.
Air mataku kembali jatuh, andai saja Beno tidak selingkuh saat itu. Jika saja dia tidak membuat ulah lagi, pasti Mamak masih bisa berkumpul bersama kami.
Aku memilih melangkah ke dapur untuk menenangkan diri, namun saat ku lihat di sana ada Bang Rido aku kembali menangis, "Bang."
Dia yang melihatku justru mengangguk paham dengan air matanya yang juga turun deras, "Jangan terlalu sedih, nanti Mamak ikutan sedih di sana."
Adikku yang bungsu, si Tomi sudah menyendiri duluan di ujung dapur ketika selesai membagikan yasin ke para pelayat. Ia memegangi botol sirup jeruk yang dibuat Mamak sebelumnya.
Karena Mamak selalu menyiapkan sirup jeruk ketika Tomi baru pulang dari kebun di kulkasnya.
Sementara Mba Dara diam di dalam kamar Mamak menangis di sana, ditemani Mba Tara.
Beno? Terserah dia mau kemana.
Aku sudah tidak punya tenaga untuk memikirkan anak yang selalu membuat ulah itu.
Bagiku, semua yang terjadi hari itu sudah cukup. Aku tidak ingin lagi mendengar semua hal dan alasan darinya.
Dia anak laki-laki yang mana harusnya lebih bisa bertanggung jawab dengan Mamak dan istrinya. Namun yang terjadi justru dia menyakiti mereka sekaligus.
Terakhir yang kudengar dia dibawa ke kantor polisi, selebihnya aku tidak peduli.
Bang Rido mengajakku untuk kembali ke ruang tengah dan duduk di tempat semula. Mataku kembali tertuju pada foto Mamak yang diletakkan di atas meja.
Foto itu diambil beberapa bulan lalu.
Mamak sedang tersenyum, dengan baju yang kubelikan. Senyuman yang sekarang terasa begitu jauh untuk ku lihat lagi.
Tanganku meraih tasbih pemberian Mas Tio tadi. Kugenggam erat sambil mencoba menggerakkan satu per satu butirannya.
“Subhanallah...” Suaraku nyaris tidak terdengar.
“Subhanallah...” Air mataku kembali jatuh.
Aku tidak tahu apakah doa-doaku sudah cukup. Apakah selama ini aku sudah menjadi anak yang baik untuk Mamak.
Yang aku tahu, ada terlalu banyak hal yang belum sempat kukatakan. Belum sempat kubalas, dan tidak sempat kulakukan.
Aku bahkan masih punya rencana untuk membuat Mamak mencoba masakan baru dari resep yang kulihat di televisi oleh chef Farah Quinn waktu itu.
Aku masih ingin mengajaknya pergi. Melihatnya duduk di dapur sambil mengomel karena aku terlalu banyak menggunakan minyak.
Hal-hal kecil yang dulu terasa tidak penting. Sekarang justru menjadi sesuatu yang paling kurindukan.
"Mak." Aku menatap fotonya lama,"Maaf."
Aku menundukkan kepala. “Eri masih banyak salahnya.”
Tanganku menutup mulut agar tangisku tidak terdengar terlalu keras oleh para pelayat.
Namun ternyata percuma.
Dari dapur terdengar suara langkah yang sedikit berat, dapat Aku lihat Tomi menghampiriku.
Dia duduk di sebelahku tanpa mengatakan apa-apa.