Pukul sepuluh malam Aku masih di rumah Mamak, membantu membereskan acara tahlilan.
Mba Dara sedang mengobrol dengan beberapa tetangga yang masih ada di teras, sementara Mba Tara dia pulang lebih cepat karena anaknya demam tinggi.
Beno sudah masuk ke dalam kamarnya di temani dengan Bang Rido dan juga Tomi.
"Bun, ayo pulang," ajak Mas Tio ketika melihat aku mengangkat piring ke arah dapur.
"Bentar, Yah."
Aku meletakkan piring itu di meja dapur lalu kembali ke ruang tengah, berjalan menuju kamar Mamak dan perlahan membuka pintunya.
Kosong.
Tidak ada lagi Mamak di sini.
Rasanya udara di dalam paru-paruku dikuras habis, dengan langkah pelan aku menghampiri kasur tidur Mamak.
Bau khas minyak kemiri yang selalu dipakai Mamak untuk merawat rambutnya yang panjang masih tercium.
Sekarang aku mengerti kenapa Mba Dara menangis saat berada di dalam sini.
Aku menatap lama lemari kayu yang aku belikan untuk Mamak, masih terawat rapi dengan cat yang agak sedikit memudar.
Ketika aku membuka lemari itu, aku tersenyum sendu. Baju-baju Mamak masih terlipat rapi di sana, ada tiga helai baju yang sengaja di gantungnya.
Baju kebaya.
Baju jalan-jalan.
Dan baju gamis wol yang kami belikan.
Air mataku kembali tumpah. Aku ingat betul Mamak hanya menggunakan baju itu di acara tertentu saja, bahkan seingatku hanya tiga kali dia memakainya.
Kata Mamak saat itu sayang kalau bajunya dipakai lama, soalnya harga baju itu mahal.
Bau kasturi yang melekat di baju itu membuat aku kembali menitiskan air mata. Dulu Mamak benci aroma ini karena ini parfum favorit Bapak, tapi aku tidak menyangka justru sampai akhir hayat Mamak, dia memilih untuk mengoleskan bau yang dia benci agar merasa lebih dekat dengan mendiang suaminya.
Mataku tidak sengaja menatap dompet warna merah muda yang berada di bagian bawah lemari. Aku ingat berul, jika Mamak ingin memberikanku benda itu.
Namun karena hanya ada satu dia takut dua anak perempuannya yang lain akan merasa iri padaku.
Saat aku mencoba membuka dompet itu, aku terdiam sejenak, masih ada catatan kecil tulisan Mamak di sana.
"Untuk anakku, Eri. Semoga rezekimu lancar selalu. Tetap menjadi saudara yang baik untuk seluruh saudaramu."
Aku mengusap tulisan itu dengan ujung jari.
Tulisan tangan Mamak.
Tulisan yang dulu sering kulihat di secarik kertas belanja, di balik nota, atau di meja makan ketika Mamak meninggalkan pesan untuk kami.
Sekarang, satu kalimat pendek saja sudah mampu membuat dadaku terasa begitu sesak.