Shall memeluk Aire dari luar jendela menyelimuti gadis itu dalam kabut hitamnya yang kemudian menghilang.
Hembusan angin meniup anak rambut Aire yang perlahan mengerjap. Di hadapannya, terbentang hamparan rumput dengan pepohonan di kejauhan yang mulai menguning. Shall bersiul, dedaunan terhambur bersama angin yang menyentuh lembut kulitnya.
"Shall, hentikan," rengek Aire, tetapi masih asik bermain dengan helai daun yang berterbangan.
Pria iblis itu tersenyum, melihat bagaimana Aire begitu ceria dan penuh semangat. Dengan percaya diri gadis itu menjatuhkan diri dari jendela, percaya bahwa ia pasti datang menyelamatkan.
Senyatanya, Aire menyadari. Semakin ia terancam kematian, semakin benang takdir itu menyiksa Shall. Gadis itu berlari mendekat dengan seulas senyum.
"Kata kakek, darah iblis itu tidak seperti darah manusia. Darah iblis adalah lava panas, apa benar begitu Shall?"
"Kenapa?" tanya Shall tak perduli. Pria itu berbalik, lalu berjalan menjauhi Aire. "Kau mau melukaiku lalu melihat seperti apa darahku?"
"Tidak." Aire menggeleng pelan. Gadis itu mengikuti langkah Shall menuju bukit rendah yang ditumbuhi sebuah pohon mapel tua yang daunnya mulai menguning dan berguguran.
Tanpa ragu gadis itu memilih duduk di atas rumput tepat di samping Shall. Keduanya bungkam, hanya serayu yang terus menyapa, gerakkan bunga-bunga mungil diantara rerumputan.
Dalam benak, Aire memikirkan kemana perginya Shall setelah mengetahui isi dari geleri berdarah. Pria itu mengatakan tentang reinkarnasi orang-orang yang membunuhnya dalam penghianatan. Seperti kala itu, di tepi pantai. Shall dengan mata merahnya yang mengerikan.
"Hujan?" Aire mengulurkan tangan, rasakan tetesan butir bening yang mulai berguguran dari langit.
Mendung berkumpul, rintik hujan berjatuhan. Shall masih terdiam di tempatnya, melihat Aire yang mulai beranjak kebingungan, mengeluhkan pakaian yang mulai basah.
"Kenapa hujan, Shall? Suasana hatimu tidak baik?" Aire mengeluarkan satu permen terakhir yang ia bawa dari kantongnya, lalu mengulurkan benda manis itu pada Shall.
"Ambil ini, dan sudahi hujannya. Aku tidak mau basah," rengek Aire.
Shall beranjak, lalu hampiri Aire. Ia semakin dekat, membisikan sebuah kalimat, "Bukan aku yang menciptakan hujan ini, tapi kamu. Perasaanmu sedang buruk."
Hujan turun semakin deras, Aire sudah pasrah akan seragam sekolahnya yang basah dan mencetak tubuhnya dengan jelas. Perempuan itu mengumpat berkali-kali karena memakai dalaman gelap yang menjadi sangat mencolok.
"Kenapa ini, Shall! Hentikan hujannya!" kesal Aire sembari memeluk dirinya sendiri.
"Jika hujan berhenti, apa suasana hatimu akan membaik?" Aire mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Shall, lalu pria iblis itu menjentikkan jari dan perlahan tetesan hujan mulai berhenti.
Aire menetralisir nafas yang sedikit terengah. Jujur, ia masih sangat kaget bahwa dirinya bisa mempengaruhi cuaca di Eden yang seharusnya dikendalikan oleh Shall.
"Kenapa cuaca Eden jadi mengikuti suasana hatiku?" tanya Aire.