You have that gloomy side you're willing to hand to enfold the earth
Beruntung ada program Dapur dan Makan Bersama yang diiklankan di media sosial. Setiap pagi selama rentang waktu yang kupilih dalam formulir (sebulan penuh, tentu saja) aku harus pergi ke restoran yang bernama Blindly Taste. Restoran itu terletak di kanan persimpangan pertama Jalan Kamboja Merah dari arah rumahku, hanya sejauh 7 km saja. Kami akan berbelanja untuk keperluan memasak, memasak bersama, lalu mengemasi makanan dalam porsi yang ditentukan untuk kemudian dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan di jalanan. Setelahnya, para relawan akan makan bersama.
Kegiatan itu menahanku sampai pukul tujuh malam, lebih efektif daripada sekolah dalam menghindari bujukan Papa dan Buk Laras untuk menjenguk Kak Dimens. Dan karena kegiatan itu punya tujuan yang mulia, Papa tidak memprotesku.
Akhir Juli lumayan berangin. Dan mendung terus mengancam walau tidak setetes pun hujan mau mengguyur. Awan-awan kelabu tampak seperti membawa beban sebesar Bumi dan membuntuti semua orang pergi ke mana pun. Aku sampai di sekolah setelah membungkus tubuh dengan dua luaran, sweter krim dan hoodie putih.
Kelas baruku masih senggang. Belum banyak murid yang datang dan karena ini hari pertamaku masuk di kelas sebelas, aku bebas memilih kursi mana pun yang kumau. Denta dan Mily sekilas menyapa. Oleh karena mereka tidak berteman denganku sejak SMP, aku tahu setidaknya mereka berusaha melakukannya dengan tulus. Tidak memikirkan kemungkinan aku bisa saja tervonis menderita HIV/AIDS seperti kakakku.
Dimens telah pergi. Beberapa orang seenaknya sendiri membuat komentar bahwa dia mungkin saja telah ... pergi dari dunia ini. Kenapa mereka senang sekali membuat pernyataan-pernyataan palsu yang sekaligus sangat buruk? Tidakkah mereka pernah memikirkan perasaan keluarga Dimens? Atau mereka hanya memikirkan perasaan mereka dan keluarga mereka sendiri? Tapi Kak Dimens telah berusaha meminimalisasi kemungkinan menyebarkan virus itu di masyarakat sampai-sampai dia rela mengurung dirinya di kamar. Mereka semua tidak tahu sehingga tidak bisa menghargai usahanya itu.
Kenapa mereka tega membicarakan hal-hal buruk soal Kak Dimens? Padahal aku saja yang mengetahui penyebab Kak Dimens bisa terjangkit virus tersebut tidak sampai hati membencinya? Aku memejamkan mata. Tentu karena tak ada seorang pun yang mengenal Kak Dimens sebaik aku, Papa, dan Buk Laras di dunia ini. Dulu, ketika dia masih sehat.
Seandainya saja aku bisa memutar kembali waktu, hari itu aku akan pulang sekolah lebih awal demi menggagalkan rencana Kak Dimens dan teman-temannya. Mereka tidak akan terserang virus itu. Mereka tidak akan memiliki penyakit itu sekarang.
Aku memijat-mijat dahi. Kelas Sejarah dimulai pukul 07.15. Kami berurusan lagi dengan kolonialisme dan imperialisme Eropa. Tapi karena hari ini luar biasa dingin—Pak Seno ternyata guru ringkih yang mengajar dengan suara kelewat pelan—dan aku duduk bersama Lindu yang menutupi kepalanya dengan buku, aku pun menguap terus. Dalam kepala, hal terakhir yang kuingat adalah ilustrasi cokelat-putih di buku teks sejarah. Ketika rakyat Indonesia dengan bertelanjang dada dan berikat kepala mengangkat cangkul di atas tanah lapang, sedang diawasi seorang serdadu bersenapan.
Bel sekolah yang keras membuatku terlonjak di kursi. Jantungku berdebar-debar sewaktu mataku terbuka. Ternyata kantuk berat Lindu menulariku hingga jatuh tertidur. Aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah sebelum menyantap bekal yang dibawakan oleh Buk Laras di kelas. Hari ini aku merancang agenda untuk menemui Pak Gibran di ruang konseling. Setelah meringkasi kembali kotak bekal, aku turun ke lantai satu dan menyeberangi halaman parkir motor untuk mencapai kantor guru. Ruangan Pak Gibran terletak tepat di depan ruang pengurus OSIS. Aku mengetuk pintu yang memiliki panel kaca vertikal, lalu memutar kenop logam.
Pak Gibran sedang menyeduh sesuatu dengan air hangat dari dispenser. "Selamat pagi?" ucapnya penuh tanya padaku yang menyelipkan diri ke dalam ruangannya.
Aku mengangguk sedikit. "Selamat pagi, Pak. Saya Matra Grasila, murid XI IPS 2. Saya ingin mencari tahu informasi mengenai perkuliahan."
Pak Gibran setinggi atap dan potongan rambutnya tampak seperti setengah jadi. Bagian di atas telinga dipangkas habis, sementara bagian di atas agak panjang dan disisir miring ke sebelah kanan. Matanya yang cemerlang, seperti dua bulan purnama, melonjak sebentar sebelum dia mengulurkan tangan ke arah dua kursi di depan meja kayu besar. "Silakan, silakan, mari duduk, kita bicarakan mengenai rencana perkuliahan yang sudah kamu susun."
Dia menawariku teh atau kopi, yang kutolak dengan halus. Tapi Pak Gibran tidak sedang berbasa-basi. "Cuaca sedang sangat dingin, Bapak tidak terkejut kalau nanti malam turun salju di Indonesia ini." Pak Gibran berkata sambil memosisikan gelas plastik di bawah keran air hangat dispenser. Dia memutuskan teh adalah pilihan terbaik untukku.
Setelah teh hangatku jadi, kami duduk berhadapan. Aku bersyukur Pak Gibran bersikeras membuatkanku teh. Uapnya yang seharum melati menghangatkan wajahku.
"Jadi, bagaimana?" Dia memulai. "Kamu sudah punya gambaran mengenai jurusan yang ingin kamu ambil di kampus nanti?"
Entahlah. Sejujurnya aku kemari dengan gelas yang sama sekali kosong. Aku tidak mengerti apa minatku. Aku tidak tertarik pada akuntansi, perbankan, ekonomi, manajemen bisnis, atau apa pun. "Pak ...," ungkapku ragu-ragu. Aku berdeham sekali. "Apakah ... apakah mungkin anak IPS seperti saya berkuliah di jurusan yang berhubungan dengan ... dengan medis?"