He has one heart he divides into two, but I can't even sense my part
Konsultasi pertama di kantornya gratis. Saat aku mendatangi perusahaan tempat kakaknya Soma bekerja, aku diberi tahu begitu. Aku sendiri tidak tahu yang mana kakaknya karena aku tidak bertanya. Buat apa juga? Aku tidak mau berlarut-larut punya urusan dengan Soma.
Proses konsultasi ini sebenarnya makan waktu dan biaya yang banyak. Mereka menyarankanku untuk mengambil paket tes psikologi sebagai dasar penentuan apakah aku benar-benar cocok melanjutkan pendidikan di dunia medis. Apalagi bidang tersebut membutuhkan banyak modal juga. Jangan sampai sudah telanjur memilih jurusan itu tanpa pertimbangan matang sebelumnya, mentalku malah jadi terganggu di tengah jalan, dan berujung pada keputusanku untuk tidak melanjutkan kuliah itu lagi. Akan sangat buang-buang uang, waktu, dan tenaga. Mereka benar soal itu.
Sejujurnya, harapanku untuk mengenyam pendidikan medis mulai pupus. Apalah dayaku memilih jurusan kuliah hanya berdasarkan pengalaman yang terjadi padaku saat itu juga, bukan karena menilik secara serius dan lebih lanjut mengenai minat serta kemampuanku.
Aku melaju pulang sambil bertanya-tanya. Kalau tidak berdasarkan keadaan yang mendesakku pada suatu waktu, apa yang sebenar-benarnya ingin kutekuni? Sesuatu yang punya nilai guna, yang bermanfaat buat orang-orang terdekatku—Kak Dimens terutama?
Sejak dulu aku tertarik pada sejarah dan sains. Hanya karena aku ingat bahwa Kak Dimens sangat mencintai sains lah aku berhenti mengembangkan ilmu sainsku dan mulai mengambil jurusan IPS waktu SMA. Aku tidak tahu itu bisa dibilang keputusan salah kaprah atau tidak. Aku tidak benar-benar tahu mana yang benar dan mana yang salah menyangkut minatku.
Aku cuma kepingin membantu Kak Dimens sembuh dari penyakitnya. Atau minimal berhasil membujuknya menjalani kehidupan sebagaimana orang normal pada umumnya. Terlepas dari seberapa fatal kesalahannya dulu itu, dia pantas mendapatkan kesempatan kedua, kan? Aku juga selalu menanyakan itu pada diriku sendiri. Pantaskah? Benarkah dia pantas?
Kalau memang benar jalan terbaik bagiku adalah mengambil paket tes psikologi yang harganya mahal itu, ini hanya berarti satu hal: aku harus segera memberi tahu Papa.
Papa menghabiskan waktu di rumah dengan tidur di depan televisi setiap kali tidak diterima oleh Kak Dimens di kamarnya. Ada saat-saat Kak Dimens bahkan tidak berhasil menguasai dirinnya sendiri sampai-sampai tak ada lagi yang dipedulikannya. Aku bisa melihat penolakan-penolakannya dari cahaya redup di mata Papa atau Buk Laras.
Pukul lima sore, Papa sampai di rumah. Aku sedang menyantap puding roti cokelat buatan Buk Laras yang baru kukeluarkan dari kulkas ke meja makan. "Matra," sapa Papa sambil menendang lepas pantofel. Jas hitamnya terlipat di siku tangan. Papa bisa saja datang ke showroom-nya sendiri dengan pakaian kasual, tapi dia memang tipe orang yang senang tampil formal.
"Puding?" Aku menawarkan. Papa tersenyum. Bibirnya sepucat dan setipis aku, tapi rahangnya kotak sekali seperti Kak Dimens. Dia menghampiriku untuk mengecup puncak kepalaku.
"Nanti, Sayang. Harus mandi dulu." Dengan begitu, Papa menghilang ke kamarnya yang berdampingan dengan kamarku, tepat di belakang ruang tamu, hanya berbataskan partisi rak kayu.
Aku berusaha menghabiskan potongan puding sambil mengulang-ulangi kalimat permintaan yang mau kusampaikan pada Papa. Papa hampir tidak menyukai ide anaknya bepergian jauh darinya dan sekarang aku menggagas untuk menjalani tes psikologi yang akan menentukan apakah pendidikan medis di luar negeri memang sesuai dengan minat dan kemampuanku. Kalau ya, aku akan tinggal dalam selang waktu yang lama di luar negeri. Ada kemungkinan Papa akan langsung menolak permintaanku. Dadaku sudah rusuh, seperti ada satu ton pasir yang berpusar-pusar dan mengotori ruang di sana.
Sepuluh menit kemudian, Papa keluar dari kamarnya membawa wangi sabun apel. Rambutnya dimodel spike. Dia selalu gagal bertingkah seperti berandalan formal, tapi tak pernah sekali pun dia punya niatan untuk menyerah.
Aku bergegas ke kulkas untuk mengambilkannya sepotong puding. Pa, aku sudah menyusun rencana ini, untuk kuliahku. Mengambil medis. Dan harus di luar negeri karena standar pendidikan dokter di Indonesia tidak menerima anak jurusan IPS. Luar negeri, Pa. Iya, Pa, aku akan berkuliah di luar negeri, pergi jauh dari sini. Dengan pesawat, memakan waktu belasan jam perjalanan. Kumohon Papa mengerti. Aku tidak bisa tinggal di sini sementara waktu, bersamamu dan Kak Dimens.
Bisa-bisa Papa langsung menangis sampai pingsan.
Papa duduk di sofa kanvas yang kasar. Buk Laras tak pernah telat menyedot debunya sehingga sofa itu menyerap dengan mudah wangi bunga-bungaan dari penyemprot parfum ruangan. Aku duduk di sebelahnya, menyerahkan sepiring puding.
"Terima kasih, Nak." Dia makan dengan lahap. Meski arlojinya yang berwarna seperti perak melorot berkali-kali di lengannya, dia tidak terganggu.
Aku menghela napas sambil menatap Patrick Star yang mengenakan seragam kantoran di televisi. Papa mengambil remote di sebelahnya dan memindah saluran televisi. Mataku terpejam dan dalam satu keheningan yang menurutku pantas, aku mengatakannya. "Pa, kayaknya aku harus menjalani tes psikologi untuk mengetahui jurusan kuliah yang tepat buatku."
"Tes psikologi?" tanyanya. Matanya fokus sekali mengikuti tingkah konyol Patrick dan Spongebob di televisi.
"Aku mau melanjutkan ke medis ...."