I'm asking nothing but to let me feel like I have nothing to bind myself onto
Kami berkeliling kota seharian. Olahraga di lapangan kota, mengunjungi puluhan dari ratusan kedai yang berada di kawasan lapangan itu sambil menunduk di bawah gerimis, melihat-lihat pakaian di mall, main bowling, tiduran di undakan panggung yang punya beberapa genangan air hujan dan dinaungi pepohonan di tepi taman kota sambil membahas tentang apa yang akan kami sukai dari Brazil; Canberra; Nikaragua; dan lain sebagainya, duduk di rooftop kedai kopi dan memandangi matahari terbenam, nonton di bioskop, lalu bernyanyi dan mengambil rute panjang ke minimarket dekat rumahku, tempatku memarkir motor, walau bau hujan sudah kembali pekat di udara.
Aku berani besumpah. Ini adalah Minggu terpanjang sekaligus terbaik yang pernah kupunya. Keluargaku pernah berlibur bersama ke Turki waktu aku baru lulus SD, tapi kami berhenti jalan setelah makan malam. Kami beristirahat di kamar hotel. Dimens terlentang dan langsung mendengkur, sementara Papa terkulai lemas di sofa sambil menonton televisi. Tidak ada yang mau melanjutkan kegiatan setelah berkeliling Ankara. Tapi sekarang ... kami tidak berhenti. Sejauh ini, belum pernah kutemukan orang dengan tenaga kuda seperti Soma. Dia tidak lelah, tidak mengeluh, dan selalu menerima ide-ideku dalam menentukan tempat untuk dikunjungi selanjutnya.
Jantungku berdebar-debar seharian ini, diliputi perasaan gagah perkasa bahwa beginilah cara paling tepat untuk melewati masa muda, menyongsong kehidupan yang makin ke sini makin membesar seperti bola voli yang dilemparkan padamu. Bukan dengan mengunci diri di kamar demi entah apa.
Tapi ... bagaimana jika itu aku? Jika akulah yang mengidap penyakit itu dan bukannya Dimens? Akankah aku mampu menghadapinya? Tidakkah aku langsung bunuh diri setelah hasil tesnya keluar? Apa yang kupikirkan kalau aku memutuskan untuk hidup selamanya di dalam kamarku? Karena aku menyesal dan ingin menghukum diriku? Karena aku tidak mau penyakitku menulari orang lain? Karena aku takut penyakitku semakin parah kalau aku keluar dari tempat yang menurutku paling bersih sedunia? Karena aku telah kehilangan harapan hidup?
Aku memejamkan mata dan suara Soma yang menyanyikan lagu pop terdengar makin kencang. Tidak, aku tidak akan melakukan itu kalau punya orang-orang yang sayang padaku dan senantiasa mendukungku. Dimens memiliki kami, atau setidaknya Papa dan Buk Laras. Jadi, bagaimana bisa Dimens bertahan sejauh ini seorang diri? Keras kepala menganggap dia bisa melaluinya tanpa bantuan siapa pun?
Tapi ketika kami sampai, aku melihat Papa sedang duduk di salah satu kursi meja di teras minimarket. Tangannya bersedekap. Rambut spike-nya basah. Dia berusaha keras mengangkat kepala, sementara matanya hanya setengah terbuka. Motorku terparkir tepat di depannya.
"Kenapa?" tanya Soma karena aku tidak segera turun dari motor.
"Mundur." Aku menepuk-nepuk bahunya dengan cepat, khawatir Papa segera menyadari kehadiranku. Kaki panjang Soma menjejak ke belakang dan motor pun mundur perlahan.
"Yang mana orang tuamu?" Rupanya dia bisa membaca pikiran yang ini juga. Meski sering kali menjadi sasaran tebakan Soma, aku terkejut mengetahuinya mengatakan orang tua alih-alih papaku. Mungkinkah ada suatu kondisi ketika dia hanya bisa menebak latar belakang atau ceritaku setengah-setengah saja? Bisa jadi Soma tahu aku tinggal bersama satu orang tua, tapi tidak tahu yang mana. Entah Papa atau Mama.