I'm overwhelming by your readiness to bring me exploring the earth
Siapa yang tahu Rapunzel ternyata bisa berasal dari kalangan lelaki? Sewaktu duduk bermeditasi di teras belakang, yang alasnya berupa susunan kayu berbau pelitur, aku berusaha keras untuk tidak mendongak. Atap di atasku adalah balkon teras lantai dua dan kamar Dimens. Suatu hari akan ada perempuan yang bisa naik ke menaranya. Dan karena Dimens tak punya rambut panjang, dia harus menguluri perempuan itu tangga.
Aku butuh ketenangan saat meditasi. Dan batasnya dengan kebahagiaan setipis tangkai kacamata Soma. Ketenangan bisa kudapatkan dengan membuat pikiranku beristirahat, tapi bisa juga dengan membayangkan seseorang, momen, atau benda yang bisa membuatku tenang. Kebahagiaan ... lain cerita. Ada Mama dan Dimens yang sehat. Ada aku dan Papa yang tidak bertengkar. Kami semua duduk di satu meja, makan masakan Buk Laras sementara Buk Laras menonton televisi bersama keluarganya sendiri, sengaja memberi waktu untuk kami.
Tarik napas dalam-dalam, tahan. Tahan, tahan, tahan. Buang.
Mama telah meninggal. Dimens sekarat. Aku dan Papa bertengkar. Kelopak mataku terpental membuka. Duniaku di luar Soma berupa kenyataan yang terlalu jujur. Aku tak punya kesempatan untuk berandai-andai semuanya normal. Setiap kali melihat tangga ke lantai dua, yang kuingat adalah bagaimana cara Dimens menggiringku ke lantai satu pada malam dia dan teman-temannya menggunakan satu kamar beramai-ramai. Karena setelahnya ... adalah bencana bagi diri mereka sendiri.
Saat hasil tes keluar, kami bertiga dan Buk Laras yang tak henti-hentinya meremas-remas jemari tangan sedang mengobrol santai di meja makan yang sangat putih dan bersih. Begitu membaca kertas itu, orang pertama yang ditatap Dimens adalah aku. Muncul kolam air yang membuat matanya jadi berkilau. Dia kelihatan serapuh bayi hari itu. Kemudian dia kesulitan menelan ludah. Napasnya jadi terburu-buru dan tak beraturan.
"Dimens?" Aku ingat Papa memanggilnya begitu, dengan nada penasaran yang tidak menghakimi.
Dimens memejamkan mata dan meremas surat beserta amplopnya di meja lalu mendaki tangga dan membawa surat itu bersamanya. Ke kamarnya. Ke tempat kejadian perkara. Awal mula bencana itu. Itulah yang kupikirkan waktu Papa mengejarnya ke lantai dua. Aku sempat melihat tinta tabel dan angka-angka yang tembus ke halaman belakang surat, tapi kalaupun aku bisa membacanya dari depan pun kurasa takkan ada bedanya. Aku tidak mungkin mengerti. Namun, untuk apa sulit-sulit membaca tabel kalau yang perlu kulakukan hanya melihat Dimens terpukul begitu hebatnya, Papa tegang, dan Buk Laras lemas sampai kedua tangannya terkulai lemah di sisi tubuh? Lalu, Dimens pun makin jarang turun dari kamarnya.
Aku baru dapat penyuluhan HIV AIDS di sekolah, jadi tak perlu menebak apa yang mereka semua lakukan dengan gadis itu.
Bahuku digiring dengan lembut. Aku mengeratkan pejaman mata. Jangan memikirkan hari itu. Dimens kedengaran ceria waktu menggiringku turun ke tangga. Dia berengsek! Berengsek! Dia membiarkan dirinya dan teman-temannya bergilir melakukan itu kepada gadis itu. Gadis yang dia suka.
Mataku terbuka. Napasku berlepotan dan aku sulit mengaturnya. Aku pun bangun dari matras, menyambarnya dengan asal, lalu pergi ke kamar dan membantingnya ke lantai. Tak ada gunanya meditasi kalau aku tak bisa berhenti memikirkan gadis itu.