Knowing today would ever come in my life, I would never cry even once
Soma akan menungguku di minimarket depan perumahan pada pukul enam sore, sesuai perjanjian, sementara aku menunggu kepulangan Papa. Aku menyiapkan satu pakaian ganti, dan meski merasa bodoh, yang kuperkirakan akan tampak membaur dengan kehidupan di Inggris pada musim hujan dan juga seragam putih berkerah batik untuk besok. Aku belum tahu kami akan sampai di bagian mananya Inggris, tapi kuasumsikan kota-kota besarnya. Inggris sedang dilanda hujan, menurut internet, jadi aku juga menyelipkan payung kecil ke dalam ransel.
Pintu rumah terbuka. Papa, dengan jaket denim hitam yang merangkapi kemeja kuning kotak-kotak, masuk sambil menendang lepas sepatu. Dia melirikku sekilas sambil menanggalkan jaket. "Matra, Nak."
"Aku mau minta izin untuk menginap malam ini," tangannya berhenti meletakkan jaket di gantungan besi, "di rumah temanku. Namanya Mily."
"Menginap?" Papa tidak bisa menyembunyikan wajah terkejut yang mengatakan, Kamu benar, Sonaria, akan datang hari ketika dia memintaiku izin untuk menginap di rumah teman-temannya. Kupikir awalnya tidak akan ada inap-inapan seperti itu.
Aku menghela napas dan mengembuskannya seolah-olah selama lima menit terakhir aku berenang di lautan. "Ada tugas kelompok Sejarah. Lebih mudah kalau kami mengerjakannya bersama-sama di rumah Mily."
Wajah Papa kebingungan, antara menampilkan senyum tanggung atau lengkung kesedihan. Tapi yang menang adalah senyum tulus. Dia berjalan ke arahku sambil mengangguk-angguk. "Kamu benar-benar sudah kembali bergaul, Nak? Aku ...." Papa menunduk sebentar. "Maafkan Papa karena tak pernah menyadari itu sebelumnya."
"Kalau Papa berhenti hanya melihat satu anak Papa saja dan mulai sadar bahwa ada anak kedua Papa yang perlu diperhatikan juga," Papa kelihatan sangat merana mendengarkan kata-kataku, "mungkin kehidupan akan berjalan dengan seimbang." Aku lalu bergegas ke dalam kamar untuk mengambil ransel. Sewaktu kembali ke ruang tamu, aku menemukan Papa masih berdiri di tempatnya semula, termenung menatap kaus kaki hitam yang membebat kaki.
"Jaga dirimu baik-baik." Kedua tangannya ditenggelamkan dalam kantung jaket. Aku melaluinya di pintu. Kurasakan tangan Papa mencengkeram bahuku dan sesaat kemudian kecupannya mendarat di puncak kepalaku. "Papa selalu menyayangimu, Matra."
Aku membuka pintu dan menjauh dari jangkauan Papa.
Di teras minimarket, Soma sedang mencungkili roti. Saat melihatku, dia melambaikan rotinya, beranjak bangun dari kursi, dan menuruni tangga teras. "Kamu makan keju?" Aku bisa melihat isian kuning yang melekati bagian dalam rotinya.
"Keju di sini sangat berbeda dengan keju-keju di Belanda atau Italia. Mereka bisa memproduksi keju bahkan dalam skala rumah tangga. Lebih mudah jadinya bagi mereka mengatur rasanya agar sesuai dengan keinginan mereka."
"Pernah ke Belanda dan Italia juga?" tanyaku.
"Mengunjungi Suku Maya pun pernah." Dia melongok ke ranselku. "Jangan cuma membawa piyama. Belum tentu kita akan tidur di sana."