Don't Make It a Wrong Place

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #12

Wrong Debt

The solution is never as easy as imagining every place I've been dreaming to visit


Orang-orang berjalan di antara kami. Berjejalan dan tidak peduli terhadap satu sama lain. Tangan-tangan ditekuk dalam kantung mantel panjang, yang melayang-layang dan mengentak betis mereka. Beberapa mengenakan pakaian kasual yang cenderung berpotongan pendek seolah kulit mereka antiair. Sepatu-sepatu menginjak genangan kecil dan membuat air terciprat di trotoar. Seorang gadis berambut keemasan melewatiku, aku refleks menyentuh bahunya di balik mantel abu-abu.

Ya Tuhanku, tubuhnya padat.

Dia menolehku. Aku terkesiap.

"Sorry, I thought you were my friend."

Hal pertama yang diperhatikannya adalah tubuhku. Aku pun mengikutinya. Jaket abu-abu tipis, ritsleting terbuka, kaus putih, jeans hitam, sneakers. Sementara London tampaknya habis diempas hujan deras semalam, menyisakan siang yang malas dan dingin. Dia ragu-ragu, hanya tersenyum sebelum kembali berjalan menjauhiku.

Samar-samar kudengar deguk berulang-ulang di belakangku. Aku menoleh dan mendapati Soma sedang berusaha menyembunyikan gelak tawa sambil memegangi perutnya. "Kenapa?" Dia melipat bibir rapat-rapat ke dalam mulut. "Kenapa kamu tertawa?" tekanku.

Kini dia makin berani. Tawanya tumpah dengan deras. Dia menyingkir ke tepi jembatan ketika ada orang lain lagi yang lewat di sisiku. Kepalanya menunjuk orang itu. "Itu, coba sentuh lagi dia. Sentuhlah semua orang di sini untuk memastikan mereka semua bisa melihatmu." Dia kembali tertawa terpingkal-pingkal. "Kamu pikir kamu gak kasatmata seperti aura atau atom?"

Panas merambati kepala dan hampir mencekik leherku. Biar saja dia kelihatan sinting tertawa sendirian di situ. Aku berbalik dan melangkah meninggalkannya. Lagi pula, sampai di sini aku sudah tidak memerlukan panduannya lagi. Salah satu negara tujuanku untuk melanjutkan studi adalah Inggris. Peta negara ini, terutama di bagian kota atau tempat-tempat pariwisatanya sudah pernah kupelajari. Kami sedang berdiri di Jembatan Westminster di London, yang dibangun di atas Sungai Thames. Berjalan lurus ke depan meninggalkan menara jam Big Ben, aku akan sampai di Waterloo.

"Kak Matra! Hei, ayo cari kafe untuk ganti baju dulu!"

Di ujung Jembatan Westminter, kami membelok ke kiri, menuruni beberapa anak buah tangga landai untuk mencapai kawasan County Hall; ada kafe yang bisa kami kunjungi di sana, kata Soma. Sebelumnya, aku tidak memikirkan ini karena tak sabar ingin mengelilingi seluruh London. Tapi saat ada waktu untuk merenung, aku mempertanyakannya. Soma sudah duduk di meja bundar dekat dinding kaca ketika aku kembali dari kamar mandi. Dua cangkir kopi tersaji di meja. Cahaya siang yang kelabu membanjiri kafe dari kaca. Soma mengenakan turtleneck hitam, mantel cokelat yang menjuntai sampai kaki, dan celana kain sewarna mantelnya. Tatapannya diarahkan ke dinding kaca. Dia kelihatan seperti penduduk asli sini dan jauh lebih dewasa dariku.

"Kita ada di dunia yang sama dengan yang ... kita tinggali di Indonesia?" tanyaku. Dia mengangguk tanpa menoleh. Tampaknya memandangi salah satu dari barisan lampu jalanan yang dilapisi bola kaca dan bertiang hitam di tepi sungai. "Di mana motor kita?"

"Motor kita hanya medium, tempat mengalirnya bahan bakar itu ke dalam tubuh kita."

"Tubuh kita? Maksudmu, aku minum bensin?" tanyaku dengan panik. Aku mencecap-cecap untuk menemukan rasa bensin dari baunya yang khas, tapi mulutku terasa bersih.

Soma melirikku. Segaris senyum melandai di bibir tipisnya. "Bahan bakarnya tidak harus bensin. Itu bahan bakar untuk tubuh kita. Tapi kalau yang kamu khawatirkan adalah apakah motormu akan kembali saat kita pulang ke Indonesia ... ya, pastinya. Kita akan sampai di tempat kita mulai."

"Motorku nggak ... terparkir di sana, kan?" Kalau Papa melihatnya di pom bensin itu ... bisa-bisa dia menungguiku di sana sambil tertidur seperti saat di minimarket.

"Motormu ada bersamamu. Dia melebur menjadi dirimu, Kak Matra. Jika kamu mengkhawatirkan soal kendaraan, lupakan saja. Kupikir kamu sudah membuat daftar tempat-tempat yang ingin kamu kunjungi selama tinggal di Inggris?"

"Universitas," jawabku mantap. "Sebanyak mungkin universitas di London, aku ingin mengunjunginya. Aku ingin tahu biaya kehidupan, biaya kuliah, silabus jurusan, politik kampus, jadwal kuliah, bentuk ujian, budaya, kegiatan kampus, organisasi dan komunitas. Semuanya."

Soma memejamkan mata sambil menghela napas. Dia meraih cangkir kopi di meja dan membaui terlebih dahulu sebelum menyeruputnya. "Universitas? Seharusnya aku tahu kamu akan semembosankan itu."

"Terserah kamu mau menyebutku apa. Yang kutahu, aku harus melakukan survei untuk masa depan yang mungkin saja akan kujalani di sini. Persiapan lebih baik dilakukan sedini mungkin. Semakin banyak bahan pertimbangan, semakin banyak solusi masalah, akan semakin jelas bagiku gambaran hidup di luar negeri."

"Ya, ya, ya, tapi berjanjilah, di perjalanan selanjutnya nggak ada universitas lagi." Dia nyaris memejamkan mata saat mengucapkan universitas.

Aku mengabaikannya untuk melongok melalui bahunya dan berusaha melihat roti-roti yang terpajang di konter. "Ada apa saja?" Kemudian aku ingat. Aku cuma bawa rupiah dan jumlahnya mungkin tidak sampai 200 ribu.

"Aku bawa pounds dari perjalanan terakhirku ke Inggris, jangan khawatir. Kalau mau makan, makan saja. Itu baru nggak membosankan." Orang tuanya pasti luar biasa kaya. Terkadang rasanya sungguh tidak adil, dia mengetahui hampir segalanya tentang aku, termasuk keluargaku, tapi aku hanya tahu patahan-patahan informasi tentangnya. Sebenarnya, kalau mau menculikku hari ini dan—misalnya—membunuhku, Soma tak akan pernah ketahuan.

Tapi sebelum dia sempat melakukan itu, aku berencana membuatnya lebih dulu mati kebosanan karena seluruh universitas yang ingin kukunjungi ini.

Lihat selengkapnya