Don't Make It a Wrong Place

Vyas Cornanila Wahana Putri
Chapter #15

Wrong Lies

If only these problems never happened to me, I wouldn't say any lies


Saat Soma menghampiri kelasku di jam istirahat pertama dengan sebuah tas kertas, aku mengabaikannya untuk terus menyantap sarapanku sampai habis. Belakangan ini semenjak berteman dengannya, aku meminta pada Buk Laras untuk tidak menyiapkan kotak bekal karena tahu Soma pasti membawakanku oleh-oleh dari luar negeri. Tapi kemudian dia menolak untuk membawaku kembali ke Inggris dan aku tersinggung lalu memutuskan untuk kembali ke kebiasaan lamaku, membiarkan Buk Laras menyiapkan kotak bekalku.

Lindu, yang duduk di sebelahku sambil melekukkan kabel-kabel earphone yang bisa ditemukannya di seluruh sekolah menjadi prajurit yang mengangkat pedang (entah kenapa bagiku itu mustahil untuk dilakukan, tapi Lindu punya keistimewaan melakukan hal-hal mustahil sejenis itu), berkali-kali mencuri pandang padaku lalu pada pintu. Akhirnya, dia tidak bisa lagi menahan diri. "Bocah itu. Dia menunggu di luar tuh."

Aku hanya menatapnya. Dia jarang menutup mulut. Giginya maju dalam susunan setengah lingkaran ke depan, seperti berusaha menyerbu mulutnya sendiri. Lindu pun tutup mulut dan kembali pada susunan kabel earphone-nya. Banyak murid yang secara tidak sengaja meninggalkan earphone mereka di sekolah, aku sempat menghitung sekilas ada sekitar sembilan di meja Lindu.

Baru setelah menghabiskan sarapan, aku berjalan ke arah Soma, tapi bukan untuk menyapanya, melainkan membelok tajam ke belakang pintu kelas yang terbuka ke luar ruangan untuk membuang plastik bekas kuah miso. Tanpa menoleh kembali padanya, aku masuk ke kelas.

"Kamu marah padaku karena penolakan itu." Aku tidak menggubrisnya. "Padahal aku cuma mau memberimu waktu untuk lebih sering bersama keluargamu."

Kali ini aku langsung berputar padanya. Pagi mendadak kehilangan matahari yang sulit ditemukan pada bulan Desember. Aku tidak ragu dia tahu keadaan rumpang dan runyam kami walau dia tidak pernah bertanya bagaimana kami di rumah. Kalau dia tahu Dimens menderita AIDS dan Papa memperburuknya dengan selalu memperlakukan Dimens di atas semua orang, dia tidak akan pernah mengatakan itu.

Kacamata Soma berkilau, menutup matanya sejenak. Kilau itu lenyap dan aku kembali bisa menatap ke dalam matanya yang hampir tak berkelopak. "Sekali kamu tahu kamu bisa muncul di seluruh seluk-beluk semesta, orang-orang terdekatmu akan menjelma jadi kepentingan yang minor sekali. Dan sebelum kamu mengutukku karena membuatmu melupakan mereka, aku cuma ingin menawarkan sedikit kebebasan padamu."

"Membuatku melupakan mereka? Seolah-olah kamu mau menuruti permintaanku untuk segera kembali ke Inggris? Kalau permintaan sekecil itu aja nggak bersedia kamu penuhi, gimana dengan seluk-beluk semesta?"

Sejenak Soma memperlihatkan senyum yang aneh, sebelum kusadari orang hanya memperlihatkan senyum seperti itu saat sedang merasa bangga, sebelum menunduk dan menghirup udara segar. "Sudah lewat dua minggu. Kurasa Papamu nggak akan keberatan memberimu izin menginap lagi malam ini." Dia maju selangkah dan menukar senyumnya dengan senyum bahagia. "Kutunggu di minimarket pukul enam seperti kemarin?"

Lihat selengkapnya